200 problems of 10 disease

20 Oct

 

Epidemiologi Pengendalian Penyakit

Menular dan Non Menular

REVIEW PENYAKIT

 

 

 

DHEA KHOIRUNNISA APRIANI

E2A009197

Reguler-2 2009

 

 

 

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro

2011

KUSTA

  1. agen biologik         : Mycobacterium leprae
  2. agen kimia                        : –
  3. agen nutrisi            : –
  4. agen mekanik       : –
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas : Mycobacterium leprae merupakan bakteri yang tahan asam, bersifat aerob dimana kelangsungan hidupnya ber-gantung pada kebutuhan oksigen, merupakan bakteri gram positif, berbentuk batang, dan tidak membentuk spora.
  7. host           : anak-anak lebih rentan terkena kusta daripada manusia dewasa.
  8. reservoir    : orang yang menderita kusta dan lingkungan (tanah yang terdapat lendir hidung penderita kusta)
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers
  12. inapparent infections (subclinical cases)
  13. incubatory carriers

Pada masa inkubasi, belum menunjukkan gejala, tetapi bakteri sudah berkembang didalam tubuh dan dapat menjadi sumber penularan.

  1. convalescent carriers
  2. chronic carriers

Selama proses perjalanan penyakit menjadi kronis, yaitu 5-7 tahun, dapat menularkan penyakit.

  1. lingkungan fisik : lingkungan fisik yang kurang baik mendukung keparahan penyakit. Pencahayaan yang cukup di dalam rumah akan memutus rantai penularan bakteri. Semakin tinggi suhu dan semakin banyak sinar matahari yang masuk, maka semakin cepat bakteri mati.
  2. lingkungan biologik : lingkungan biologi yang kurang sehat akan mendukung keparahan penyakit.
  3. lingkungan sosio-ekonomik : kemiskinan akan mempengaruhi keparahan penyakit karena ketidakmampuan memperoleh pelayanan kesehatan.
  4. portal of exit : jalan keluar bakteri dari tubuh penderita, yaitu selaput lendir hidung.
  5. mode of transmission :
  6. Melalui sekret hidung. Basil yang berasal dari sekret hidung penderita yang mengering, masih dapat hidup di lingkungan luar selama 2–7 x 24 jam.
  7. Kontak kulit dengan kulit. Syarat : dibawah umur 15 tahun, keduanya harus ada lesi baik mikoskopis maupun makroskopis dan adanya kontak yang lama dan berulang-ulang.
    1. portal of entry : bersentuhan kulit dengan penderita lepra secara langsung dan lewat respirasi dimana lingkungan tempat tinggal mengandung Mycobacterium leprae.
    2. susceptible host : imunitas individu berpengaruh terhadap keparahan penyakit.
    3. course of infection/patofisiologi penyakit
    4. incubation period : masa inkubasi penyakit kusta bervariasi antara 2 minggu hingga 4 tahun.
    5. prodromal period

1)    adanya bercak tipis seperti panu pada tubuh

2)    bercak putih tersebut awalnya hanya sedikit, tetapi lama kelamaan semakin melebar dan banyak

3)    adanya pelebaran saraf terutama pada saraf ulnaris, medianus, aulicularis, magnus, serta peroneus

4)    kelenjar keringat kurang kerja sehingga kulit menjadi tipis dan mengkilat

5)    adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit

6)    alis rambut rontok

7)    muka berbenjol-benjol dan tegang yang disebut facies leomina (muka singa)

  1. fastigium period : hilangnya anggota gerak serta anggota tubuh lainnya.
  2. defervescence period : jika terapi dan pengobatan pada lepra tidak sempurna maka akan menyebabkan bakteri lepra berkembang dalam tubuh.
  3. convalescence period : pada masa pertumbuhan dan terapi masih tetap dapat menularkan penyakit.
  4. defection period

Respon imun pada penyakit kusta meliputi respon imun humoral atau antibody mediated immunity. Pada respon imun humoral, tubuh akan memproduksi antibodi untuk menghancurkan antigen yang masuk. Dengan CMI, bahan asing atau antigen akan memacu produksi sel pertahanan spesifik yang dapat dimobilisasi untuk menghancurkan antigen dan akan memicu terjadinya reaksi kusta. Sel pertahanan spesifik adalah limfosit yang tidak berkemampuan fagosit, sedangkan makrofag dapat memakan Mycobacterium leprae.

  1. web causation

 

 

TUBERCULOSIS

  1. agen biologik         : Mycobacterium tuberculosis
  2. agen kimia                        : –
  3. agen nutrisi            : malnutrisi
  4. agen mekanik       : –
  5. agen fisika             : debu, asap
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas : Mycobacterium tuberculosis mempunyai sifat khusus, yaitu tahan asam (BTA). Bakteri tuberkulosis cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh, bakteri ini dapat dormant atau tertidur lama dalam beberapa tahun. Bakteri aerob (mencari jaringan yang banyak mengandung oksigen), tidak tahan panas, tahan terhadap desinfektan, bisa hidup dalam keadaan dormant.
  7. host           : manusia
  8. reservoir    : manusia
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers
  12. inapparent infections (subclinical cases)
  13. incubatory carriers
  14. convalescent carriers
  15. chronic carriers
    1. lingkungan fisik : kepadatan penghuni rumah, kelembaban rumah, ventilasi, pencahayaan, sinar matahari, lantai, dinding
    2. lingkungan biologik : keberadaan Mycobacterium tuberculosis di lingkungan sekitar.
    3. lingkungan sosio-ekonomik : kondisi sosial-ekonomi merupakan penyebab tidak langsung seperti adanya kondisi gizi buruk, perumahan yang tidak sehat, dan terhambatnya akses terhadap pelayanan kesehatan.
    4. portal of exit : sistem respirasi melalui mulut dan hidung.
    5. mode of transmission : penularan melalui udara (airborne disease), dapat menular melewati batuk dan bersin.
    6. portal of entry : sebagian besar melalui sistem respirasi, tetapi ada juga yang masuk melalui sistem pencernaan.
    7. susceptible host : kepekaan tertinggi pada  anak kurang dari tiga tahun dan terendah pada anak usia 12-13 tahun, dapat meningkat lagi pada umur remaja dan awal tua. Risiko untuk menjadi sakit paling tinggi pada usia dibawah 3 tahun dan paling rendah pada usia akhir masa kanak-kanak kemudian risiko meningkat lagi pada usia adolesen dan dewasa muda, usia tua, serta pada penderita dengan kelainan sistem imunitas
    8. course of infection/patofisiologi penyakit
    9. incubation period

Mulai dari terinfeksi sampai pada lesi primer muncul, sedangkan waktunya berkisar antara 4-12 minggu. Pada fase ini, bakteri melipatgandakan diri hingga cukup untuk merangsang sistem imunitas seluler.

  1. prodromal period

Penampakan tanda-tanda dan gejala awal penyakit yang belum jelas, berlangsung satu hari, banyak terjadi penularan. Jaringan yang ditumbuhi kuman TB akan mengalami lisis dan kuman membentuk koloni. Pada saat terbentuk kompleks primer koloni ini ditandai oleh hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, sehingga timbul respon positif terhadap uji tuberkulin.

  1. fastigium period

TBC berada pada puncaknya, tingkat penularan paling tinggi, gejala TBC terasa lebih jelas terjadi hipersensitivitas. Di daerah ini reaksi jaringan parenkim paru dan kelenjar getah bening sekitar akan menjadi semakin hebat dalam waktu kurang lebih 12 minggu, selama kuman-kuman tersebut tumbuh semakin banyak dan hipersensitivitas jaringan terbentuk setelah kekebalan tubuh terbentuk, fokus primer akan sembuh dalam bentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi.

  1. defervescence period

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.

  1. convalescence period

Masa pemulihan tetapi tidak bisa sembuh sempurna, kuman TB masih dapat hidup dan menetap selama bertahun-tahun.

  1. defection period

 

 

  1. web causation

 

 

DEMAM BERDARAH DENGUE

  1. agen biologik         : virus Dengue (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4)
  2. agen kimia                        : insektisida
  3. agen nutrisi            : –
  4. agen mekanik       : vektor nyamuk Aides Aygepti
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas : virus Dengue membentuk suatu kompleks yang nyata di dalam genus Flavivirus berdasarkan pada karakteristik antigenik dan biologinya. Terdapat 4 serotipe virus yang disebut sebagai DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Terinfeksinya seseorang dengan salah satu serotipe tersebut diatas akan menyebabkan kekebalan seumur hidup terhadap serotipe virus bersangkutan. Meskipun keempat serotipe tersebut mempunyai daya antigenis yang sama namun berbeda didalam menimbulkan proteksi silang meski baru beberapa bulan terjadi infeksi dengan salah satu dari DEN tersebut.
  7. host           : Host adalah manusia yang peka terhadap infeksi virus dengue. Beberapa faktor yang mempengaruhi manusia adalah umur, jenis kelamin, nutrisi, populasi, dan mobilitas penduduk.
  8. reservoir    : virus dengue bertahan melalui siklus nyamuk Aedes aegypti-manusia di daerah perkotaan negara tropis, sedangkan siklus monyet-nyamuk menjadi reservoir di Asia Tenggara dan Afrika Barat.
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers
  12. inapparent infections (subclinical cases)
  13. incubatory carriers
  14. convalescent carriers
  15. chronic carriers
    1. lingkungan fisik
    2. Macam tempat penampungan air (tempat penampungan air) sebagai tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.
    3. Ketinggian tempat, di daerah pantai kelembaban udara mempengaruhi umur nyamuk sedangkan di dataran tinggi suhu udara mempengaruhi pertumbuhan virus di tubuh nyamuk. Di tempat dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut tidak ditemukan nyamuk Aedes aegypti.
    4. Curah hujan, menambah genangan air sebagai tempat perindukan, menambah kelembaban udara terutama untuk daerah pantai. Kelembaban udara menambah jarak terbang nyamuk dan umur nyamuk di daerah pantai.
    5. Hari hujan, banyaknya hari hujan akan mempengaruhi kelembaban udara di daerah pantai dan mempenguruhi suhu di daerah pegunungan.
    6. Kecepatan angin, mempengaruhi juga suhu udara dan pelaksanaan pemberantasan vektor dengan cara fogging.
    7. Suhu udara, mempengaruhi perkembangan virus di tubuh nyamuk.
    8. Tata guna tanah, menentukan jarak dari rumah ke rumah.
    9. Pestisida yang digunakan, mempengaruhi kerentanan nyamuk.
    10. Kelembaban udara, mempengaruhi umur nyamuk.
      1. lingkungan biologik : virus dengue sebagai penyebab/agen penyakit, nyamuk Ae. Aegypti sebagai penular disebut sebagai vektor DBD, manusia sebagai penjamu atau hospes yang menderita sakit dengue dan DBD.
      2. lingkungan sosio-ekonomik : masyarakat belum banyak mempunyai pemahaman tepat dan benar tentang pencegahan dan pengendalian vektor DBD, peran serta masyarakat terhadap pencegahan dan pengendaliannya masih sangat kurang, masyarakat yang kurang peduli kebersihan lingkungan, sulit mendapatkan air bersih, kepadatan penduduk, kemiskinan.
      3. portal of exit : nyamuk Aedes dapat mengandung virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar liur berkembang ­­­biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic incubation period) sebelum dapat ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovanan transmission), tetapi perannya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembangbiak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infektif).
      4. mode of transmission : ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif, terutama Aedes aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari, dengan peningkatan aktivitas menggigit sekitar dua jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Aedes aegypti maupun Aedes albopictus ditemukan didaerah perkotaan, kedua spesies nyamuk ini ditemukan juga di AS. Ae. Albopictus sangat banyak ditemukan di Asia, tidak begitu antropofilik dibandingkan dengan Ae. Aegypti sehingga merupakan vektor yang kurang efisien.
      5. Penularan secara Trans Ovarial : Penularan Trans ovarial (secara vertical) adalah nyamuk Aedes aegypti sudah mengandung dua virus dengue (den) sejak dari telur, kepompong dan nyamuk yang muncul sudah bisa menularkan. Begitu menggigit penderita DB virus den lainnya akan terhisap juga, apabila menggigit manusia lain maka manusia itu bisa langsung terkena dua virus den (dengue)sekaligus. Kombinasi dua virus inilah yang membuat kondisi penderita demam berdarah langsung shock sehingga penderita tersebut langsung masuk tahap Dengue Shock Syndrome (DSS) yaitu tahap DB yang paling membahayakan. Faktor tersebut tampaknya menjadi penyebab mengapa pasien DB banyak yang meninggal dunia, karena penderita telah masuk tahap DSS tanpa menunjukkan gejala awal layaknya penderita DB. Juga, tanpa disertai bintik-bintik merah. Gejala identik ini tampaknya tak lagi ditemukan oleh dokter saat melakukan diagnosa awal. Gejala inilah yang membuat kondisi pasien bertambah parah. Faktor lain yang tak kalah pentingnya adalah terjadi mutasi genetik, diketahui terjadi mutasi genetik pada virus dengue (den) 3 dan 4. Virus inilah yang menjadi penyebab terjadinya DSS. Diperkirakan, faktor mutasi genetik inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan pola diagnosa DB.
      6. Penularan virus Dengue dapat terjadi secara horizontal, dari manusia pembawa virus Dengue (donor) melelui nyamuk Ae. Aegypti. Setelah mengalami propagasi dalam tubuh nyamuk sampai batas masa inkubasi ekstrinsiknya, ditularkan ke manusia penerima (resipien), yang mungkin masih rentan atau bahkan telah imun terhadap virus dengue.
        1. portal of entry : tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi nyamuk pada saat viremia, yaitu sejak beberapa saat sebelum panas sampai saat masa demam berakhir, biasanya berlangsung selama 3–5 hari. Nyamuk menjadi infektif 8–12 hari sesudah mengisap darah penderita viremia dan tetap infektif selama hidupnya.
        2. susceptible host : penjelasan tentang faktor risiko terbaik adalah dengan teori sirkulasi heterolog dari antibodi dengue, yang didapat secara pasif pada bayi atau secara aktif melalui infeksi yang terjadi sebelumnya. Antibodi ini meningkatkan infeksi dari fagosit mononuklair dengan terbentuknya kompleks-imun-virus. Asal geografis dari strain dengue, umur, jenis kelamin. dan faktor genetis manusia juga penting sebagai faktor risiko.

 

 

  1. course of infection/patofisiologi penyakit
  2. incubation period

Masa inkubasi dimulai sejak nyamuk menggigit sampai menimbulkan gejala, lebih kurang 13-15 hari.  Setelah virus masuk ke dalam tubuh, hal yang pertama terjadi adalah viremia (darah mengandung virus) yang menyebabkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit, serta dapat juga terjadi pembesaran hati dan limpa.

  1. prodromal period

Berlangsung selama 2-7 hari. Terjadi demam tinggi, muncul gejala prodromal, pada fase ini demam bisa mencapai 40 derajat celcius, sehingga pada anak menimbulkan resiko berupa kejang demam.

  1. fastigium period

Fase kritis DBD adalah setelah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.

  1. defervescence period

Ditandai dengan penderita DBD yang telah berhasil melewati fase kritis akan sembuh tanpa komplikasi dalam waktu kurang lebih 24-48 jam setelah shock.

  1. convalescence period
  2. defection period

 

 

  1. web causation

 

 

MALARIA

  1. agen biologik         : malaria disebabkan oleh parasit plasmodium yang memiliki empat tipe, yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Diantara keempat tipe plasmodium tersebut, Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum adalah yang paling umum menyebabkan malaria serta Plasmodium falciparum adalah tipe yang paling sering menyebabkan malaria yang berat.
  2. agen kimia                        : insektisida
  3. agen nutrisi            : –
  4. agen mekanik       : vektor nyamuk Anopheles
  5. agen fisika             :
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas : dalam siklus hidupnya plasmodium penyebab malaria mempunyai dua hospes, yaitu pada manusia dan nyamuk. Siklus aseksual plasmodium berlangsung pada manusia disebut skizogoni dan siklus seksual plasmodium membentuk sporozoit didalam nyamuk disebut sporogoni.
  7. host           : manusia
  8. reservoir    : sebelum masuk ke manusia, parasit Plasmodium berkembang di reservoirnya yang juga merupakan perantara penularan penyakit malaria ke manusia, yaitu nyamuk Anopheles betina. Di Indonesia ditemukan ada 46 spesies nyamuk Anopheles yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari spesies-spesies nyamuk tersebut ada 20 spesies yang dapat menularkan penyakit malaria. Dengan kata lain di Indonesia ada 20 spesies nyamuk Anopheles yang berperan sebagai vektor penyakit malaria.
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers
  12. inapparent infections (subclinical cases)
  13. incubatory carriers
  14. convalescent carriers
  15. chronic carriers
    1. lingkungan fisik
    2. Suhu udara

Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu) makin pendek masa inkubasi ekstrinsik, dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik. Pada suhu 26,7oC, masa inkubasi ekstrinsik untuk tiap spesies yaitu P. falciparum 10 – 12 hari, P. Vivax 8 – 11 hari, P. Malariae 14 hari, dan P. ovale 15 hari.

  1. Kelembaban udara

Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk. Kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit, istirahat dan lain lain dari nyamuk.

  1. Hujan

Terdapat hubungan langsung antara hujan dan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan, jumlah hari hujan, jenis vektor dan jenis tempat perindukan (breeding places). Hujan yang diselingi oleh panas akan memperbesar kemungkinan berkembang biaknya Anopheles.

  1. Angin

Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang merupakan saat terbangnya nyamuk ke dalam atau ke luar rumah adalah salah satu faktor yang ikut menentukan jumlah kontak antara manusia dan nyamuk. Jarak terbang nyamuk (flight range) dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung kepada arah angin.

  1. Sinar matahari

Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. An. sundaicus lebih suka tempat teduh, sebaliknya An. hyrcanus spp lebih menyukai tempat yang terbuka. Sedangkan An. barbirostris dapat hidup baik di tempat yang teduh maupun di tempat yang terang.

  1. Arus air

An. barbirostris menyukai tempat perindukan yang airnya statis atau mengalir sedikit. An. minimus menyukai tempat perindukan yang aliran airnya cukup deras dan An. letifer di tempat yang airnya tenang.

  1. Ketinggian

Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah. Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian di atas 2000 m jarang ada transmisi malaria. Tetapi sekarang, hal ini berubah seiring dengan terjadinya pemanasan bumi. Di pegunungan Irian Jaya yang dulu jarang ditemukan malaria kini lebih sering ditemukan malaria.

  1. lingkungan biologik : tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk karena dapat menghalangi sinar matahari yang masuk ke tempat perindukan serta melindungi jentik nyamuk dari serangan mahluk hidup lain. Adanya berbagai jenis ikan pemangsa larva seperti ikan kepala timah (panchax spp), gambusia, nila, mujair dan lain-lain dapat mempengaruhi populasi nyamuk di suatu daerah. Selain itu adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau yang kandangnya diletakkan tidak jauh dari rumah dapat mengurangi jumlah gigitan nyamuk pada manusia (Cattle Barrier).
  2. lingkungan sosio-ekonomik : akibat pembangunan yang kian sering adalah kemungkinan timbulnya tempat perindukan nyamuk buatan manusia sendiri (man made breeding places). Pembangunan bendungan, penambangan timah dan pembukaan tempat pemukiman baru adalah beberapa contoh kegiatan pembangunan yang sering menimbulkan perubahan lingkungan yang menguntungkan bagi nyamuk malaria. Perpindahan penduduk dapat menjadi faktor penting untuk meningkatkan malaria. Meningkatnya pariwisata dan perjalanan dari daerah endemik mengakibatkan meningkatnya kasus malaria yang diimpor.
  3. portal of exit : Plasmodium keluar dari kelenjar ludah nyamuk Anopheles betina dimasukkan kedalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut.
  4. mode of transmission
    1. Secara alami terjadi melalui gigitan nyamuk infektif.
    2. Secara tidak alami melalui :

1)    Malaria bawaan (congenital)

Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria, penularan terjadi melalui tali pusat atau placenta.

2)    Secara mekanik

Penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik. Penularan melalui jarum suntik yang tidak steril lagi. Cara penularan ini pernah dilaporkan terjadi disalah satu rumah sakit di Bandung pada tahun 1981, pada penderita yang dirawat dan mendapatkan suntikan intravena dengan menggunakan alat suntik yang dipergunakan untuk menyuntik beberapa pasien, dimana alat suntik itu seharusnya dibuang sekali pakai (disposeble).

3)    Secara oral (melalui mulut)

Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam (P.gallinasium) burung dara (P.Relection) dan monyet (P.Knowlesi).

 

  1. portal of entry : Plasmodium masuk ke dalam tubuh manusia melalui tusukan nyamuk Anopheles betina pada permukaan kulit manusia masuk ke dalam darah berupa sporozoid. Sporozoit berpindah ke hati dan menembus hepatosit. Tahap dorman bagi sporozoit Plasmodium dalam hati dikenal sebagai hipnozoit. Dari hepatosit, parasit berkembang biak menjadi ribuan merozoit, yang kemudian menyerang sel darah merah.
  2. susceptible host : penderita yang memiliki gejala dengan gambaran klinis malaria seperti demam, menggigil, berkeringat, batuk, diare, dan gangguan pernapasan.
  3. course of infection/patofisiologi penyakit
  4. incubation period

Masa tunas dapat berbeda-beda, antara 9 sampai 40 hari, dan ini menggambarkan waktu antara gigitan nyamuk yang mengandung sporozoit dan permulaan gejala klinis. Selain itu, masa tunas infeksi P. vivax dapat lebih panjang dari 6-12 bulan atau lebih. Infeksi P. malariae dan P. ovale sampai bertahun-tahun.

  1. prodromal period

Dalam periode prodromal yang berlangsung satu minggu atau lebih, yaitu bila jumlah parasit di dalam darah sedang bertambah selama permulaan siklus aseksual, tidak tampak manifestasi klinis yang dapat menentukan diagnosis. Gejala dapat berupa perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi. Demam tiap hari atau tidak teratur, mungkin sudah ada.

  1. fastigium period

Stadium panas yang berlangsung lebih lama dan kulit penderita manjadi kering serta panas, muka menjadi merah, suhu mencapai 39o-41oC, nadi cepat dan penuh, kepala pusing, mual, kadang-kadang muntah, dan pada anak kecil timbul kejang-kejang. Kemudian penderita berkeringat banyak, suhu badan turun, sakit kepala hilang, dan dalam waktu beberapa jam penderita menjadi lelah. Serangan demam biasanya berlangsung 8-12 jam, dan pada infeksi P. falcifarum berlangsung lebih lama.

  1. defervescence period
  2. convalescence period
  3. defection period
    1. web causation

 

 

CHIKUNGUNYA

  1. agen biologik         : Arbovirus A Chikungunya Type
  2. agen kimia                        : –
  3. agen nutrisi            : –
  4. agen mekanik       : vektor nyamuk Aedes Aygepti
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas : virus Chikungunya hidup dalam tubuh nyamuk Aedes Aygepti.
  7. host           : manusia
  8. reservoir    : manusia, monyet
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers
  12. inapparent infections (subclinical cases)
  13. incubatory carriers
  14. convalescent carriers
  15. chronic carriers
    1. lingkungan fisik : ketinggian tempat, curah hujan, temperatur dan kelembaban. Wilayah dengan ketinggian diatas 1000 meter dari permukaan laut tidak ditemukan nyamuk A. aegypti karena ketinggian tersebut suhu terlalu rendah sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk. Hujan akan menambah genangan air sebagai tempat perindukan dan menambah kelembaban udara. Temperatur dan kelembaban selama musim hujan sangat kondusif untuk kelangsungan hidup nyamuk yang terinfeksi. Virus Chikungunya hampir sama dengan virus dengue, yaitu hanya endemik di daerah tropis dimana suhu memungkinkan untuk perkembangbiakan nyamuk. Suhu optimum pertumbuhan nyamuk adalah 25°C-27°C. Pertumbuhan akan terhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10ºC atau lebih dari 40ºC. Pola berjangkit virus Chikungunya tidak jauh beda dengan virus dengue, yaitu dipengaruhi oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28°C-32°C) dengan kelembaban yang tinggi, nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu yang lama. Di Indonesia, karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola waktu terjadinya penyakit agak berbeda di setiap tempat. Pada musim hujan tempat perkembangbiakan A. aegypti yang pada musim kemarau tidak terisi, mulai terisi air. Telur-telur yang belum sempat menetas pada waktu singkat akan menetas. Selain itu pada musim hujan semakin banyak tempat-tempat penampungan air alamiah yang terisi air hujan yang dapat digunakan sebagai tempat perkembangan nyamuk ini. Karena itu pada musim penghujan populasi nyamuk A. aegypti meningkat.
    2. lingkungan biologik : lingkungan biologi yang mempengaruhi penularan Chikungunya terutama adalah banyaknya tanaman hias dan tanaman pekarangan yang mempengaruhi pencahayaan dan kelembaban di dalam rumah. Kelembaban yang tinggi dan kurangnya pencahayaan dalam rumah merupakan tempat yang disenangi oleh nyamuk untuk istirahat.
    3. lingkungan sosio-ekonomik : penyakit Chikungunya dapat menular ke seluruh anggota keluarga penderita. Pertumbuhan penduduk yang tinggi serta urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali mendukung meluasnya penyakit.
    4. portal of exit : melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti
    5. mode of transmission : host (manusia) à virus (alphavirus) à vektor (aedes aegypti) à multiplikasi à orang lain
    6. portal of entry : melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti
    7. susceptible host : pejamu yang kerentanan atau daya tahan tubuhnya yang lemah saat terkena gigitan nyamuk.
    8. course of infection/patofisiologi penyakit
    9. incubation period : masa inkubasi penyakit Chikungunya adalah 2-5 hari
    10. prodromal period

Gejala yang paling menonjol pada kasus ini adalah nyeri pada setiap persendian (poliarthralgia) terutama pada sendi lutut, pergelangan kaki dan tangan, serta sendi-sendi tulang punggung. Radang sendi yang terjadi menyebabkan sendi susah untuk digerakkan, bengkak dan berwarna kemerahan. Itulah sebabnya postur tubuh penderita menjadi seperti membungkuk dengan jari-jari tangan dan kaki menjadi tertekuk (chikungunya).

  1. fastigium period

Serangan demam Chikungunya mendadak dengan masa demam lebih pendek, suhu lebih tinggi, dan hampir selalu disertai bintik-bintik kemerahan, mata merah, dan lebih sering dijumpai nyeri sendi (bukan kelumpuhan). Pada demam Chikungunya hampir tidak pernah terjadi perdarahan organ dalam seperti pada saluran cerna atau pun syok karena perdarahan.

  1. defervescence period

Biasanya, demam berlangsung selama dua hari dan kemudian berakhir tiba-tiba. Namun, gejala-yaitu lainnya nyeri sendi, sakit kepala hebat, insomnia dan tingkat ekstrim sujud-berlangsung selama periode variabel; biasanya selama sekitar 5 sampai 7 hari.

  1. convalescence period
  2. defection period

Penyakit demam Chikungunya adalah penyakit yang jarang menyebabkan kematian. Pada demam Chikungunya hampir tidak pernah terjadi perdarahan organ dalam seperti pada saluran cerna atau pun syok karena perdarahan.

  1. web causation

 

 

AIDS

  1. agen biologik         : Human Immunodeficiency Virus
  2. agen kimia                        : –
  3. agen nutrisi            : –
  4. agen mekanik       : jarum suntik yang dipakai bergantian dengan pengidap HIV AIDS
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas : HIV termasuk Netrovirus yang sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk menemukan obat yang dapat membunuh virus tersebut. Daya penularan pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada didalam darahnya, semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya penularannya sehingga penyakitnya juga semakin parah. HIV sebagaimana virus lainnya, sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh. Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60°C selama 30 menit dan lebih cepat dengan mendidihkan air. Seperti kebanyakan virus lain, virus AIDS ini dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan lain.
  7. host           : manusia
  8. reservoir    : ODHA sebagai reservoir yang mampu menularkan penyakit
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases

Flu selama 3-6 minggu setelah infeksi, panas dan rasa lemah selama 1-2 minggu. Bisa disertai ataupun tidak gejala-gejala seperti:bisul dengan bercak kemerahan (biasanya pada tubuh bagian atas) dan tidak gatal. Sakit kepala, sakit pada otot-otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, diare (mencret), mual-mual, maupun muntah-muntah.

  1. carriers

Ibu dengan HIV AIDS dapat menjadi carrier dengan menularkan HIV AIDS pada anak yang dikandungnya.

  1. inapparent infections (subclinical cases)
  2. incubatory carriers

Orang dengan HIV AIDS dapat menularkan virus HIV pada orang lain meskipun gejala-gejala AIDS pada dirinya belum muncul (membutuhkan waktu 5-10 tahun sampai munculnya gejala AIDS).

  1. convalescent carriers
  2. chronic carriers
    1. lingkungan fisik :
    2. lingkungan biologik : lingkungan biologis adanya riwayat ulkus genitalis, Herpes Simpleks dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positif akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini menjadi tempat masuknya HIV.

 

 

  1. lingkungan sosio-ekonomik :
  2. Urbanisasi : untuk alasan ekonomi banyak orang mungkin pindah ke kota-kota besar, di mana mereka dapat menikmati perilaku berisiko tinggi seperti seks komersial dan penggunaan narkoba suntikan, dsb.
  3. Mobilitas tinggi : populasi target tertentu dapat sangat mobile dan meningkatkan penyebaran geografis HIV.
  4. Perilaku remaja yang memakai narkoba sebagai bentuk akibat dari salahnya pergaulan sosial.
  5. Penggunaan alkohol : alkohol dapat mengganggu penggunaan penilaian dan membatasi kemampuan untuk praktik seks yang lebih aman.
    1. portal of exit : HIV dapat keluar dari tubuh reservoir dalam hal ini adalah manusia melalui membran mukosa yang terletak di dalam vagina, diujung penis dan anus serta berupa cairan tubuh, termasuk ASI.
    2. mode of transmission

HIV dapat ditularkan melalui :

  1. Hubungan seksual (homoseksual ataupun heteroseksual) dengan seorang yang mengidap HIV.
  2. Transfusi darah yang tercemar HIV.
  3. Melalui alat suntik, alat tusuk lainnya (akupuntur, tindik, tato) bekas dipakai orang yang mengidap HIV.
  4. Pemindahan HIV dari ibu hamil yang mengidap HIV kepada janin yang dikandungnya.
    1. portal of entry : pada kasus HIV/AIDS portal of exit sama dengan portal of entry. Virus HIV tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui membran mukosa dan darah (termasuk perinatal).
    2. susceptible host

Tidak diketahui adanya kekebalan orang terhadap infeksi HIV/AIDS, tetapi kerentanan setiap orang terhadap HIV/AIDS diasumsikan bersifat umum, tidak dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin dan kehamilan, sehingga setiap orang mungkin untuk terserang HIV/AIDS. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kerentanan seseorang terhadap HIV/AIDS antara lain :

  1. Usia dan jenis kelamin : HIV dan AIDS tidak proporsional mempengaruhi orang-orang muda. Berdasarkan data dari Ditjen PP & PL Depkes RI (2009), kelompok risiko yang paling tinggi terkena AIDS adalah kelompok umur 20-29 tahun dan 30-39 tahun.
  2. Kelompok berisiko tinggi : prevalensi HIV pada populasi tertentu merupakan faktor penting dalam menentukan mana program sasaran populasi, upaya dan sumber daya harus difokuskan. Jika perkiraan tingkat infeksi pada populasi target – seperti pengguna narkoba suntik – tinggi, lebih mungkin bahwa mereka akan menginfeksi satu sama lain dan juga mitra seksual.
  3. Frekuensi paparan : probabilitas bahwa seseorang telah terinfeksi dengan HIV, seksual, secara umum, sebanding dengan frekuensi tindakan seks tanpa kondom dan jumlah risiko tinggi mitra dengan siapa orang tersebut memiliki kontak seksual dalam beberapa tahun terakhir.
  4. Imunitas : ditemukan bahwa penderita AIDS memiliki fungsi sel B normal, berarti bahwa tingkat antibodi normal atau meningkat. Tetapi antibodi mereka dari non-menetralkan varietas, yang tidak memiliki efek nyata pada virus. Namun, fungsi sel T mereka jauh dari normal. Pada pasien AIDS, rasio terbalik. Salah satu fitur yang paling mencolok dari sistem kekebalan tubuh pasien AIDS dengan limfopenia mendalam dengan jumlah limfosit total sering di bawah 500/c.mm.
    1. course of infection/patofisiologi penyakit
    2. incubation period

Masa inkubasi adalah waktu yang diperlukan sejak seseorang terpapar virus HIV sampai dengan menunjukkan gejala-gejala AIDS. Waktu yang dibutuhkan rata-rata cukup lama dan dapat mencapai kurang lebih 12 tahun dan semasa inkubasi penderita tidak menunjukkan gejala-gejala sakit. Selama masa inkubasi ini penderita disebut penderita HIV. Pada fase ini terdapat masa dimana virus HIV tidak dapat terdeteksi dengan pemeriksaan laboratorium kurang lebih tiga bulan sejak tertular virus HIV yang dikenal dengan “masa window periode”. Selama masa inkubasi penderita HIV sudah berpotensi untuk menularkan virus HIV kepada orang lain dengan berbagai cara sesuai pola transmisi virus HIV. Mengingat masa inkubasi yang relatif lama, dan penderita HIV tidak menunjukkan gejala-gejala sakit, maka sangat besar kemungkinan penularan terjadi pada fase inkubasi ini.

  1. prodromal period

Pada awal infeksi, mungkin tidak akan ditemukan gejala dan tanda-tanda infeksi. Tapi kadang-kadang ditemukan gejala mirip flu seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, ruam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Walaupun tidak mempunyai gejala infeksi, penderita HIV/AIDS dapat menularkan virus kepada orang lain.

  1. fastigium period

1)    Sistem kekebalan tubuh semakin turun

2)    Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya pembengkakan kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll

3)    Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

  1. defervescence period

1)    Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah.

2)    Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah.

  1. convalescence period
  2. defection period : matinya sel dan terjadinya disfungsi seluruh organ tubuh, sehingga terjadi kematian.

 

 

  1. web causation

 

 

AVIAN INFLUENZA

  1. agen biologik         : virus influenza A subtipe  H5N1 (H : hemaglutinin, N : neuraminidase)
  2. agen kimia                        : –
  3. agen nutrisi            : konsumsi daging unggas yang terinfeksi virus H5N1
  4. agen mekanik       : kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi virus H5N1
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas :
  7. host           : unggas, manusia
  8. reservoir    : unggas
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases

Manifestasi klinis avian influenza terdiri dari :

1)    Gejala penyakit seperti influenza tipikal, yaitu demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, malaise

2)    Infeksi mata (konjungtivis)

3)    Pnemuonia

4)    Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

5)    Gangguan pada alat pencernaan yaitu diare, kejang dan koma

6)    Manifestasi saluran klinis bagian bawah biasanya timbul pada awal penyakit. Dipsnu timbul pada hari kelima setelah awal penyakit.

  1. carriers
  2. inapparent infections (subclinical cases)
  3. incubatory carriers
  4. convalescent carriers
  5. chronic carriers
    1. lingkungan fisik

Pada suhu lingkungan yang tidak optimal baik suhu yang terlalu tinggi maupun terlalu rendah akan berpengaruh terhadap daya tahan tubuh seseorang pada saat itu sehingga secara tidak langsung berpengaruh terhadap mudah tidaknya virus menjangkiti seseorang. Selain itu virus flu burung juga memerlukan suhu yang optimal agar dapat bertahan hidup.

Faktor musim pada penyakit flu burung terjadi karena adanya faktor kebiasaan burung untuk bermigrasi ke daerah yang lebih hangat pada saat musim dingin. Misalkan burung-burung yang tinggal di pesisir utara Cina akan bermigrasi ke Australia dan Asia Tenggara pada musim dingin, burung-burung yang telah terjangkit tersebut akan berperan menularkan flu burung pada hewan yang tinggal di daerah musim panas atau daerah tropis tempat burung tersebut migrasi.

Faktor tempat tinggal pada penyakit flu burung misalnya apakah tempat tinggal seseorang dekat dengan peternakan unggas atau tidak, di tempat tinggalnya apakah ada orang yang sedang menderita flu burung atau tidak.

  1. lingkungan biologik : faktor lingkungan biologis pada penyakit flu burung yaitu agent. Agent merupakan sesuatu yang merupakan sumber terjadinya penyakit yang dalam hal ini adalah virus aviant influenza (H5N1). Sifat virus ini adalah mampu menular melalui udara dan mudah bermutasi. Daerah yang diserang oleh virus ini adalah organ pernafasan dalam, hal itulah yang membuat angka kematian akibat penyakit ini sangat tinggi.
  2. lingkungan sosio-ekonomik : faktor lingkungan sosial meliputi kebiasaan sosial, norma serta hukum yang membuat seseorang berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya kebiasaan masyarakat Bali yang menggunakan daging mentah yang belum dimasak terlebih dahulu untuk dijadikan sebagai makanan tradisional. Begitu pula dengan orang-orang di eropa yang terbiasa mengonsumsi daging panggang yang setengah matang atau bahkan hanya seperempat matang. Selain itu juga pada tradisi sabung ayam akan membuat risiko penyakit menular pada pemilik ayam semakin besar.
  3. portal of exit : virus AI dikeluarkan oleh unggas penderita lewat cairan hidung, mata dan feses. Unggas peka akan tertular bisa secara kontak langsung dengan unggas penderita maupun secara tidak langsung melalui udara yang tercemar oleh droplet yang dikeluarkan hidung dan mata atau muntahan penderita. Tinja yang mongering dan hancur menjadi serbuk yang mencemari udara yang terhirup oleh manusia atau hewan lain kemungkinan juga merupakan cara penularan yang efektif. Tinja dan muntahan penderita yang mengandung virus seringkali mencemari pakan, air minum, kandang dan peralatan kandang akan menularkan penyakit dari unggas penderita ke unggas peka dalam satu flok kandang.
  4. mode of transmission : penularan virus dari peternakan satu ke peternakan lain bisa melalui perantara, antara lain manusia, pakaian, sepatu, kendaraan dan burung liar. Transmisi antar spesies, misalnya babi. Namun, sampai saat ini, H5N1 tidak dengan mudah transmisi dari hewan ke manusia dan transmisi antar manusia sangat jarang.
  5. portal of entry : tidak ada indikasi penularan AI secara vertikal, dari induk kepada keturunannya. Virus bisa terkandung dalam telur dari ayam induk pembibit yang terinfeksi, tetapi embrio akan mati sebelum menetas. Belum ada indikasi pula virus AI menular dari manusia ke manusia, tetapi tetap harus waspada, karena bisa terjadi perubahan sifat virus secara “antigenic drift” dalam tubuh babi sebagai “mixing vessel”, sehingga virus H5N1 bisa menginfeksi manusia maupun burung.
  6. susceptible host : kasus manusia terinfeksi AI cukup kecil, hanya terbatas pada orang-orang yang bersinggungan langsung dengan unggas penderita. Kelompok rawan terinfeksi, antara lain pekerja di peternakan ayam atau unggas domestik lain, Rumah Potong Ayam (RPA), pengangkut (sopir) distribusi ayam. Tidak ada bukti manusia tertular oleh virus AI karena makan daging atau telur ayam yang telah dimasak, karena virus mati pada pemanasan jauh di bawah suhu mendidih. Sehingga tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan telur ayam perlu disosialisasikan secara besar-besaran oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, semua pihak terkait kepada masyarakat luas, karena sumber pangan protein hewani yang bisa mencerdaskan kehidupan bangsa dan terjangkau harganya oleh masyarakat adalah produk unggas.
  7. course of infection/patofisiologi penyakit
  8. incubation period

Masa inkubasi avian influenza  sangat pendek, yaitu tiga hari, dengan rentang 2-4 hari. Virus avian influenza dapat menyerang berbagai organ manusia, yaitu paru-paru, mata, saluran pencernaan dan sistem saraf pusat.

  1. prodromal period
  2. fastigium period
  3. defervescence period
  4. convalescence period
  5. defection period
    1. web causation

 

HEPATITIS A

  1. agen biologik         : Virus HAV. Transfusi darah, aliran darah, plasenta bayi bagi ibu yang mengandung serta cairan tubuh seperti sperma, vagina, dan air liur.
  2. agen kimia                        : alkohol dan obat-obatan
  3. agen nutrisi            : sumber hidrat arang seperti nasi, havermout, roti putih, umbi2an. Sumber protein antara lain telur, ikan, daging, ayam, tempe, tahu, kacang hijau, sayuran, dan buah-buahan yang tidak menimbulkan gas. Makanan yang mengandung hidrat arang tinggi dan mudah dicerna seperti gula-gula, sari buah, selai, sirup, manisan,dan madu.
  4. agen mekanik       : –
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas :
  7. host           : Virus Mumps, Virus Rubella, Virus Cytomegalovirus, Virus Epstein-Barr, Virus Herpes.
  8. reservoir    : manusia merupakan reservoir hepatitis A virus, yang ditularkan dari kotoran pasien yang terinfeksi, baik kontak orang-ke-orang atau konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Transmisi seksual diantara pria yang berhubungan seks dengan sesame pria juga telah dijelaskan. Masa inkubasi berkisar antara gejala kasus dua dan tujuh minggu. Pasien yang menular dari dua minggu sebelum timbulnya gejala dan dapat terus menular selama satu minggu atau lebih setelahnya.
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers

orang-orang yang terkena infeksi, tetapi belum mempunyai tanda atau gejala yang jelas, dan dapat menularkan infeksi yang mereka derita kepada orang lain. Mereka adalah sumber infeksi yang potensial bagi orang lain, terutama karena para carrier tersebut biasanya tidak mengetahui bahwa mereka tidak mengambil tindakan pencegahan untuk menghindari penyebaran infeksi yang mereka derita kepada orang lain.

  1. inapparent infections (subclinical cases)
  2. incubatory carriers
  3. convalescent carriers
  4. chronic carriers
    1. lingkungan fisik : kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai personal hygiene, perilaku seks oral-anal, penggunaan obat-obatan suntik terlarang, dan tidak melakukan imunisasi HAV.
    2. lingkungan biologik : resistensi virus HAV terhadap lingkungan.
    3. lingkungan sosio-ekonomik : lingkungan dengan sanitasi yang buruk, kurangnya sarana air bersih, kepadatan penduduk.
    4. portal of exit : Hepatitis A – HAV – biasanya didapat dengan mengonsumsi makanan tercemar atau minum air yang terkontaminasi. HAV menyebabkan peradangan hati, yang mengarah ke rasa sakit dan pembengkakan. Hepatitis A adalah berbeda dari jenis hepatitis lainnya karena tidak biasanya sebagai serius dan tidak berkembang menjadi hepatitis kronis atau sirosis seperti hepatitis B dan C dapat. Gejala hepatitis A biasanya ringan dan pergi pada mereka sendiri. Jarang akan Anda mengembangkan komplikasi seperti kambuh hepatitis atau gagal hati. Dengan kekambuhan hepatitis, gejala membaik, tapi kemudian kembali. Kematian dari hepatitis A jarang terjadi. Para lansia,, sangat muda dan orang dengan penyakit hati kronis canggih seperti dari hepatitis C berada pada risiko terbesar untuk komplikasi dari pasien hepatitis A. yang paling menular segera setelah mereka terinfeksi dan sebelum gejala muncul. Orang dewasa yang sehat tidak lagi menular 2 minggu setelah sakit tersebut dimulai. Anak-anak dan orang-orang yang memiliki sistem kekebalan yang lemah dapat menular hingga 6 bulan. Portal exit untuk hepatitis adalah Saluran usus.
    5. mode of transmission : Penularan Hepatitis biasanya melalui kontak langsung dengan darah atau produknya dan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi. Dalam kegiatan sehari-hari banyak resiko terinfeksi Hepatitis seperti berdarah karena terpotong atau mimisan, atau darah menstruasi. Perlengkapan pribadi yang terkena kontak oleh penderita dapat menularkan virus Hepatitis (seperti sikat gigi, alat cukur atau alat manicure). Resiko terinfeksi Hepatitis melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan. Penularan Hepatitis jarang terjadi dari ibu yang terinfeksi Hepatitis ke bayi yang baru lahir atau anggota keluarga lainnya. Walaupun demikian, jika sang ibu juga penderita HIV positif, resiko menularkan Hepatitis sangat lebih memungkinkan. Menyusui tidak menularkan Hepatitis. Jika anda penderita Hepatitis, anda tidak dapat menularkan Hepatitis ke orang lain melalui pelukan, jabat tangan, bersin, batuk, berbagi alat makan dan minum, kontak biasa, atau kontak lainnya yang tidak terpapar oleh darah. Seorang yang terinfeksi Hepatitis dapat menularkan ke orang lain 2 minggu setelah terinfeksi pada dirinya. Waktu terekspos sampai kena penyakit kira-kira 2 sampai 6 minggu. penderita akan mengalami gejala gejala seperti demam, lemah, letih, dan lesu, pada beberapa kasus, seringkali terjadi muntah muntah yang terus menerus sehingga menyebabkan seluruh badan terasa lemas. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.
    6. portal of entry : ahli bedah yang terpapar untuk mengakses jantung, pembuluh darah dan dialisis, serta staf ruang operasi, berada pada risiko tinggi untuk terinfeksi hepatitis. Virulensi dari penyakit menjamin perlindungan yang maksimal untuk orang-orang ini. Mata adalah sebuah portal terbuka dan didokumentasikan masuk untuk darah dan kotoran yang berpotensi menular lainnya. Kami sangat menyarankan penggunaan kacamata atau kacamata optik jelas di ruang operasi dalam rangka untuk meminimalkan bahaya menghubungi menonaktifkan dan penyakit yang berpotensi mematikan.
    7. susceptible host : seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Kerentanan bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar, infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah mikroorganisme tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerentanan tubuh terhadap kuman, yaitu usia, keturunan, stres (fisik dan emosional), status nutrisi, terapi medis, pemberian obat dan penyakit penyerta.
    8. course of infection/patofisiologi penyakit
    9. incubation period : 18 – 50 hari (rata-rata 28 hari)
    10. prodromal period : 4 hari – 1 minggu

Gejala : lesu, lelah, anorexia, nausea, muntah, rasa tak enak abdomen kanan atas, demam (£ 390C), rasa dingin, sakit kepala, gejala flu (nasal discharge, sakit tenggorok, batuk). Pemeriksaan fisik : hepatomegali ringan & nyeri tekan (70%) dan splenomegali (5-20%).

  1. fastigium period

1)    pendahuluan (prodromal) dengan gejala letih, lesu, demam, kehilangan selera makan, dan mual

2)    stadium dengan gejala kuning (stadium ikterik)

3)    stadium kesembuhan (konvalesensi)

  1. defervescence period

selama dua minggu setelah gejala pertama atau satu minggu setelah penyakit kuning muncul. Pasien diharapkan menjaga kebersihan.

  1. convalescence period
  2. defection period

Jika menderita hepatitis A, di samping mencuci tangan dengan bersih, kita harus menjauhi kegiatan berikut karena dapat menularkan penyakit, yaitu sampai sekurang-kurangnya seminggu setelah timbulnya penyakit kuning

1)    jangan mempersiapkankan makanan atau minuman untuk orang lain

2)    jangan menggunakan alat makan atau alat minum yang sama dengan  orang lain

3)    jangan menggunakan seprai dan handuk yang sama dengan orang lain

4)    jangan berhubungan kelamin

5)    cuci alat makan dalam air bersabun, cuci seprai dan handuk dengan mesin cuci

  1. web causation

 

 

HEPATITIS C

  1. agen biologik         : virus hepatitis C (HCV)
  2. agen kimia                        : penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan serta toksin, seperti obat anastesi, obat antibiotik, obat antiinflamasi, obat antimetabolik, imunosupresifanti tuberkulosa, hormon-hormon, obat psikotropik dan lain-lain, contoh phenothiazine.
  3. agen nutrisi            : –
  4. agen mekanik       : –
  5. agen fisika             : –
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas :
  7. host           : manusia
  8. reservoir    : tempat mikroorganisme itu berada, misal sumber makanan atau air, tetapi juga dapat bersumber manusia seperti tinja dan sekret saluran pernapasan.
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases
  11. carriers
  12. inapparent infections (subclinical cases)
  13. incubatory carriers
  14. convalescent carriers
  15. chronic carriers
    1. lingkungan fisik :
    2. lingkungan biologik :
    3. lingkungan sosio-ekonomik :
    4. portal of exit : hidung, mulut, meatus urethal, luka terbuka, vagina, atau dubur.
    5. mode of transmission : penularan Hepatitis C biasanya melalui kontak langsung dengan darah atau produknya dan jarum atau alat tajam lainnya yang terkontaminasi. Dalam kegiatan sehari-hari banyak resiko terinfeksi Hepatitis C, seperti berdarah karena terpotong atau mimisan, atau darah menstruasi. Perlengkapan pribadi yang terkena kontak oleh penderita dapat menularkan virus Hepatitis C (seperti sikat gigi, alat cukur atau alat manicure). Resiko terinfeksi Hepatitis C melalui hubungan seksual lebih tinggi pada orang yang mempunyai lebih dari satu pasangan.
    6. portal of entry : virus atau bakteri yang menginfeksi manusia masuk ke aliran darah dan terbawa sampai ke hati.
    7. susceptible host :
    8. course of infection/patofisiologi penyakit
    9. incubation period : masa inkubasi berkisar antara 15-160 hari, rata-rata sekitar 50 hari.
    10. prodromal period :
    11. fastigium period :
    12. defervescence period :
    13. convalescence period :
    14. defection period :
      1. web causation

 

LEPTOSPIROSIS

  1. agen biologik         : Leptospira icterohemorrhagiae
  2. agen kimia                        : aerosol dan obat-obatan yang terkontaminasi.
  3. agen nutrisi            : air dan kurangnya vitamin C.
  4. agen mekanik       : paparan terus menerus pada luka terbuka dan arthropoda.
  5. agen fisika             : panas, air, tanah, kelembaban yang tinggi, suhu yang panas.
  6. karakter agen biologik tentang viabilitas :
  7. host           : hewan dan manusia
  8. reservoir    : hewan peliharaan dan binatang liar. Serovarian berbeda-beda pada setiap hewan yang terinfeksi.
  9. tipe reservoir pada manusia :
  10. acute clinical cases

nefritis interstisial dan tubulus glomerulus ginjal serta lesi vaskular menyebabkan uremia dan oliguria/anuria dan cedera pembuluh darah kapiler ke hati; tanpa adanya nekrosis hepatoseluler menyebabkan ikterus; peradangan meninges menyebabkan sakit kepala, kaku leher, kebingungan, psikosis, delirium, dan trombositopenia (penurunan jumlah trombosit darah); dapat menyebabkan perdarahan.

  1. carriers
  2. inapparent infections (subclinical cases)
  3. incubatory carriers
  4. convalescent carriers
  5. chronic carriers
    1. lingkungan fisik : tempat tinggal yang dekat dengan selokan air mempunyai risiko lima kali lebih tinggi terkena leptospirosis. Adanya tikus di dalam rumah mempunyai risiko empat kali lebih tinggi terkena leptospirosis. Leptospirosis juga dapat menyerang manusia akibat kondisi seperti banjir, air bah atau saat air konsumsi tercemar oleh urin hewan. Kontak dengan air selokan , kontak dengan air banjir, dan kontak dengan lumpur mempunyai risiko tiga kali lebih tinggi terkena leptospirosis.
    2. lingkungan biologik : keberadaan tikus di dalam dan sekitar rumah, kepemilikan hewan piaraan sebagai hospes perantara, banyaknya binatang yang bisa terjangkit lepstospirosis, dan banyaknya tumbuhan yang beresiko terpajan urin yang terinfeksi.
    3. lingkungan sosio-ekonomik : leptospirosis banyak terjadi di kawasan yang padat penghuni dengan sanitasi yang buruk, pembuangan sampah yang buruk (sembarangan dan tertimbun lama tanpa pengolahan), kurangnya air bersih sehingga menggunakan air dengan air sungai atau selokan. Leptospirosis biasanya terjadi pada lingkungan dengan kondisi sosio–ekonomik menengah ke bawah, termasuk kebersihan perorangan, keadaan gizi, usia, taraf pendidikan, dan pekerjaan.
    4. portal of exit : urin dan sekresi
    5. mode of transmission : infeksi leptospiral manusia terutama dari paparan langsung atau tidak langsung pada urin hewan yang terinfeksi. Kelembaban merupakan faktor penting dari kelangsungan hidup leptospira di lingkungan. Mode penularan infeksi lainnya, seperti penanganan jaringan hewan yang terinfeksi serta konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi.
    6. portal of entry : melalui kontak pada kulit, khususnya apabila terluka; atau kontak selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi; berenang; luka yang terjadi karena kecelakaan kerja; kontak langsung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinfeksi; terkadang melalui makanan yang terkontaminasi dengan urin dari tikus yang terinfeksi; dan terkadang melalui terhirupnya “droplet” dari cairan yang terkontaminasi. Bakteri memasuki host melalui portal seperti kulit yang rusak, membran mukosa tertentu, paru-paru, dan selaput konjungtiva. Mereka tidak berpikir mampu menembus kulit tidak rusak kecuali bila telah terkena air dan telah membengkak secara signifikan. Transfer ke portal biasanya melibatkan kontak langsung dengan urin atau air yang mengandung bakteri dalam suspensi. Masuk melalui paru-paru membutuhkan menghirup tetesan aerosol dan bukan bakteri sendiri. Leptospira tidak dapat eksis sebagai spora atau mengaktifkan kembali sekali kering dalam lingkungan alam. Setelah dalam jaringan host, strain patogen dapat mereproduksi karena mereka dioptimalkan untuk metabolisme pada suhu tubuh. Kelangsungan hidup mereka tergantung pada kurang efektifnya respon kekebalan tubuh host, tetapi mereka tampaknya tidak menyebabkan reaksi inflamasi dan di host tanpa kekebalan mengadaptasi kemungkinan untuk dapat mendirikan sebuah kurva pertumbuhan positif yang tinggi. Dalam strain virulen bakteri tersebut tahan terhadap serangan dari sistem kekebalan tubuh bawaan dan sehingga dapat berkembang dengan cepat, sampai sistem adaptif memiliki perubahan untuk memilih dan mereplikasi antibodi serumpun. Saphrophytes, dan patogen yang kurang virulen, tampaknya mudah ditargetkan oleh sistem kekebalan tubuh bawaan dan begitu juga dihilangkan.
    7. susceptible host : pekerjaan yang berisiko diantaranya dokter hewan, pekerja rumah jagal, petani, pekerja selokan, dan orang yang bekerja pada bangunan telantar.
    8. course of infection/patofisiologi penyakit
    9. incubation period : masa inkubasi 7-10 hari, dengan kisaran 2-30 hari.
    10. prodromal period
    11. fastigium period
    12. defervescence period
    13. convalescence period
    14. defection period
      1. web causation

 

AIRBORNE DISEASE

23 Mar

Tugas Mata Kuliah

Dasar Pemberantasan Penyakit

Dosen Pengampu : M.Arie Wuryanto.M.Kes

AIRBORNE DISEASE

Adalah penyakit yang ditularkan langsung melalui udara, dimana udara tersebut bila mengandung kuman patogen dan terkena oleh manusia yang memiliki imune yang rendah maka dapat terjadi penyakit. Di antara penyakit tersebut adalah FLU BURUNG (H5N1).

  • DEFINISI

Flu Burung (H5N1) adalah suatu jenis influenza tipe A yang menyerang hewan unggas terutama ayam dan kadangkala kepada manusia. Flu Burung dapat berpindah dari unggas hidup kepada manusia, walaupun penularan antara manusia relatif jarang terjadi. Gejala umum dari flu burung sama seperti virus influenza lainnya, seperti demam nyeri seluruh persendian otot, batuk dan sakit tenggorokan. Namun, pada berberapa kasus dapat berakibat pada demam yang tinggi, infeksi paru-paru, gagal pernafasan, kegagalan fungsi organ lainnya, dan kematian.

http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/072005/flu_burung.pdf

  • EPIDEMIOLOGI

Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1. Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas alih-alih jalur migrasi burung liar.

Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan. Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan. Kebersihan diri perlu dijaga pula dengan mencuci tangan dengan antiseptik. Kebersihan tubuh dan pakaian juga perlu dijaga.

Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah.

Unggas sebaiknya tidak dipelihara di dalam rumah atau ruangan tempat tinggal. Peternakan harus dijauhkan dari perumahan untuk mengurangi risiko penularan.

Tidak selamanya jika tertular virus akan menimbulkan sakit. Namun demikian, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat. Oleh karena itu, jika ditemukan hewan atau burung yang mati mendadak pihak otoritas akan membuat dugaan adanya flu burung. Untuk mencegah penularan, hewan lain di sekitar daerah yang berkasus flu burung perlu dimusnahkan.dan dicegah penyebarannya.

Sekelompok orang terakhir yang terinfeksi oleh pathogen avian influenza, sebagian adalah pathogen tipe H5N1 di Asia, mempunyai keterlibatan tentang serangan pandemik yang baru.

Pada tahun 1997, pathogen avian influenza H5N1 yang sangat patogen hasil dari penggabungan kembali beberapa pathogen avian menyebabkan peningkatan jumlah kematian pada unggas domestik dan penyakit yang cukup parah dengan jumlah kematian 6 diantara eighteen kasus penderita di Hongkong.

Peningkatan terjadi karena penyebaran dari unggas terinfeksi yang ada pada pasar unggas dan telah dikemas oleh pemotong ayam. Virus ini tidak terlalu baik pada penyebaran orang ke orang.

Penyebaran influenza burung di berbagai belahan dunia antara lain :

• Selama tahun 1997 di Hong Kong pathogen Avian Influenza A (H5N1) telah menginfeksi eighteen orang yang dirawat di rumah sakit dan 6 di antaranya meninggal dunia. Untuk mencegah penyebaran tersebut pemerintah setempat memusnahkan 1,5 juta ayam yang terinfeksi influenza burung.
• Pada Juli 2005 dilaporkan kasus influenza burung akibat pathogen H5N1 yang menyebabkan kematian 3 orang dalam satu keluarga di Tangerang – Banten. Awal tahun 2006 ini dilaporkan 3 kasus influenza burung baru di Indonesia dan semuanya meninggal.
• Menurut catatan WHO sampai awal Februari 2006 sum penderita influenza burung seluruh dunia berjumlah 161 dan 86 di antaranya meninggal dunia.

  • MEKANISME PENULARAN

Flu burung menular dari unggas ke unggas, dan dari unggas kemanusia, melalui air liur, lendir dari hidung dan feces. Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung. Contohnya: pekerja di peternakan ayam , pemotong ayam dan penjamah produk unggas lainnya.

Sampai saat ini belum ada bukti yang menyatakan bahwa virus flu burung dapat menular dari manusia ke manusia dan menular melalui makanan.

  • GEJALA KLINIS

Flu burung (H5N1) memiliki persamaan gejala dengan virus influenza lainnya, termasuk adanya demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala dan nyeri otot. Namun virus flu burung kemungkinan besar dapat mengakibatkan demam yang tinggi, infeksi paru-paru, terganggunya saluran pernapasan, rusaknya bermacam-macam organ tubuh, sampai pada kematian.

  • MASA INKUBASI

– Pada Unggas : 1 minggu

– Pada Manusia : 1-3 hari , Masa infeksi 1 hari sebelum sampai 3-5 hari

sesudah timbul gejala. Pada anak sampai 21 hari .

  • ETIOLOGI

Penyebab influenza burung pada bangsa unggas itu adalah pathogen influenza tipe A. Virus Influenza A berasal dari keluarga orthomyxoviridae adalah pathogen RNA berenvelop dengan dua glikoprotein permukaan : hemaglutinin dan neurominidase. Sebagai pathogen berenvelop pemanasan akan merusak daya infektivitasnya; penularan terjadi melalui saluran pernafasan bukan melalui makanan.

Ukuran hole virions adalah 80 hingga 120 nm yang berbentuk filament. Susunan pathogen terdiri dari 8 segmen berbeda dari “negative-stranded RNA”. Virus influenza A dibagi dalam subtipe-subtipe berdasarkan perbedaan serologik dan genetik glikoprotein permukaan dan gene yang mengkodenya. Ada fifteen subtipe hemaglutinin (H1-H15) dan 9 subtipe neurominidase (N1-N9) telah diidentifikasi.

Virus Influenza A dengan hemaglutinin subtipe H1, H2, H3, dan neurominidase subtipe N1 dan N2 telah menyebabkan epidemi dan pandemi sejak tahun 1900. Subtipe H5 dan H7 pathogen influenza burung adalah yang menyebabkan wabah dengan tingkat kematian tinggi (patogenik). Hanya ada satu jalur dari pathogen influenza burung yang tingkat kemampuan mematikannya tinggi atau high-pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 yang dapat menginfeksi manusia (zoonosis).

Dari penelitian menunjukkan, unggas yang sakit oleh Influenza A atau pathogen H5N1 dapat mengeluarkan pathogen dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu twenty-two derajat Celcius dan lebih dari thirty hari pada nol derajat Celcius.

Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, pathogen dapat bertahan lebih lama. Virus ini mati pada pemanasan 56 derajat Celcius dalam 3 jam atau 60 derajat Celcius selama thirty menit. Bahan disinfektan formalin dan Iodine dapat membunuh pathogen yang menakutkan ini.

Virus influenza B adalah jenis pathogen yang hanya menyerang manusia, sedangkan pathogen influenza C, jarang ditemukan walaupun dapat menyebabkan infeksi pada manusia dan binatang. Jenis pathogen influenza B dan C jarang sekali atau tidak menyebabkan wabah pandemis. Virus influenza burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Burung yang terinfeksi pathogen akan mengeluarkan pathogen ini melalui saliva, cairan hidung, dan kotoran.

Virus avian influenza dapat ditularkan ke manusia dengan 2 jalan. Pertama kontaminasi langsung dari lingkungan burung terinfeksi yang mengandung pathogen kepada manusia. Cara lain adalah lewat perantara binatang babi. Penularan diduga terjadi dari kotoran secara verbal atau melalui saluran pernafasan. Flu burung dapat menyebar dengan cepat di antara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Bahkan dapat menyebar antar peternakan dari suatu daerah ke daerah yang lain.

Penyakit ini dapat juga menyerang manusia,lewat udara yang tercemar pathogen itu. Belum ada bukti terjadinya penularan dari manusia ke manusia. Juga belum terbukti adanya penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi. Orang yang mempunyai risiko besar untuk terserang influenza burung ini adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas. Sebagian besar kasus manusia telah ditelusuri pada kontak langsung dengan ayam yang sakit.

  • DISTRIBUSI

Virus ini tidak menulari manusia pada khususnya. Namun pada tahun 1997, kejadian pertama penularan langsung virus influenza A (H5N1) dari burung ke manusia telah dibuktikan saat terjadi serangan penyakit flu burung diantara unggas di Hong Kong; virus tersebut telah menyebabkan sakit pernafasan yang parah pada 18 orang, 6 diantaranya meninggal. Sejak saat itu, terdapat kejadian penularan H5N1 pada manusia. Namun sejauh ini virus H5N1 tidak bisa menular dari manusia ke manusia. Petugas-petugas kesehatan terus memantau keadaan ini secara teliti untuk mendapatkan petunjuk adanya penularan H5N1 antar manusia. Sampai dengan tanggal 17 Oktober 2007, Indonesia telah melaporkan 109 kasus flu burung H5N1 pada manusia. 88 diantaranya mematikan. 3 kasus mematikan dilaporkan telah terjadi di Bali sejak bulan Agustus 2007.

  • PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN (CONTROL)
  1. Pada Unggas:
    – Pemusnahan unggas/burung yang terinfeksi flu burung
    – Vaksinasi pada unggas yang sehat
  2. Pada Manusia :
  • Kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan dan pedagang)
    a. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
    b. Hindari kontak langsung dengan ayam atau unggas yang terinfeksi flu burung.
    c. Gunakan alat pelindung perorangan seperti masker, sarung tangan, kaca mata pelindung, sepatu pelindung dan baju pelindung pada waktu melaksanakan tugas dipeternakan yang terjangkit atau di laboratorium.
    d. Meninggalkan pakaian kerja ditempat kerja.
    e. Membersihkan kotoran unggas setiap hari.
    f. Imunisasi.
  • Masyarakat umum
    a. Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi & istirahat cukup.

b. Lakukan survei serologis pada mereka yang terpajan termasuk kepada dokter-hewan

c. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
– Pilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya)
– Memasak daging ayam sampai dengan matang.

By :

Dhea Khoirunnisa Apriani

E2A009197

Reguler 2 2009

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegoro

http://www.litbang.depkes.go.id/maskes/072005/flu_burung.pdf

http://www.who.int/en/

FOOD AND WATERBORNE DISEASE (DIARE)

21 Mar

FOOD and WATERBORNE DISEASE (DIARE)

DEFINISI

Adalah penyakit yang ditularkan langsung melalui air minum, dimana air minum tersebut bila mengandung kuman patogen terminum oleh manusia maka dapat terjadi penyakit. Di antara penyakit tersebut adalah DIARE.

Diare adalah suatu keadaan meningkatnya berat dari fases (>200 mg/hari) yang dapat dihubungkan dengan meningkatnya cairan, frekuensi BAB, tidak enak pada perinal, dan rasa terdesak untuk BAB dengan atau tanpa inkontinensia fekal. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB ( Kejadian Luar Biasa ) seperti halnya Kolera dengan jumlah penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.

Diare kebanyakan disebabkan oleh beberapa infeksi virus tetapi juga seringkali akibat dari racun bakteria. Dalam kondisi hidup yang bersih dan dengan makanan mencukupi dan air tersedia, pasien yang sehat biasanya sembuh dari infeksi virus umum dalam beberapa hari dan paling lama satu minggu. Namun untuk individu yang sakit atau kurang gizi, diare dapat menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam-jiwa bila tanpa perawatan.

Diare terbagi menjadi diare Akut dan Kronik.Diare akut berdurasi 2 minggu atau kurang, sedangkan diare kronis lamanya lebih dari 2 minggu. Selanjutnya pembahasan dikhususkan mengenai diare kronis.

Diare menetap selama beberapa minggu atau bulan,baik yang menetap atau intermitten, memerlukan evaluasi.Meskipun pada umumnya sebagian besar kasus disebabkan oleh Iritable Bowel Syndrome (IBS), diare dapat mewakili manifestasi dari penyakit serius yang mendasarinya. Pencarian yang seksama terhadap penyakit ini harus dilakukan.

http://www.esp.or.id/handwashing/media/diare.pdf

EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi diare atau penyebaran diare sebagian besar disebabkan karena faktor lingkungan dan sanitasi yang buruk.

Lingkungan yang tidak bersih tersebut bisa menjadi pemicu munculnya bakteri-bakteri penyebab diare dalam tubuh manusia. Berikut adalah epidemiologi atau sistem penyebaran diare pada manusia.

Kuman penyebab diare biasanya menyebar melalui fecal oral antara lain melalui makanan/minuna yang tercemar

tinja dan atau kontak langsung dengan tinja penderita. Beberapa perilaku dapat menyebabkan penyebaran kuman

enterik dan meningkatkan risiko terjadinya diare perilaku tersebut antara lain :

a)      Tidak memberikan ASI ( Air Susi Ibu ) secara penuh 4-6 bulan pada pertama kehidupan pada bayi yang tidak

b)      diberi ASI risiko untuk menmderita diare lebih besar dari pada bayi yang diberi AsI penuh dan kemungjinan

c)      menderita dehidrasi berat juga lebih besar.

d)     Menggunakan botol susu , penggunakan botol ini memudahkan pencernakan oleh Kuman , karena botol susah dibersihkan.

e)      Menyimpan makanan masak pada suhu kamar. Bila makanan disimpan beberapa jam pada suhu kamar makanan akan tercemar dan kuman akan berkembang biak.

f)       Menggunakan air minum yang tercemar .

g)      Air mungkin sudah tercemar dari sumbernya atau pada saat disimpan di rumah, Perncemaran dirumah dapat terjadi kalau tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.

h)      Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja anak atau sebelum makan dan menyuapi anak,

i)        Tidak membuang tinja ( termasuk tinja bayi ) dengan benar Sering beranggapan bahwa tinja bayi tidaklah berbahaya padahal sesungguhnya mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar sementara itu tinja binatang dapat menyebabkan infeksi pada manusia.

1.    Air

Air yang kita gunakan untuk keperluan sehari-hari pun bila memiliki kebersihan yang minim bisa membawa bakteri masuk dalam perut dan berdiam di usus besar. Akibatnya, bakteri pembawa diare itu dengan leluasa menyebar ke seluruh bagian usus manusia dan menginfeksinya.

2.    Tanah

Tanah memang kotor. Sepertinya itu sudah merupakan kodrat yang diberikan Tuhan kepadanya. Tanah yang kotor tersebut sudah tidak diragukan lagi dapat mengantarkan bakteri Ecoli menuju perut. Untuk menghindari itu, biasakan mencuci bahan makanan yang akan dimasak dengan bersih sebelum dikonsumsi.

3.    Tangan

Setelah air dan tanah, hal lain yang bisa ikut membantu penyebaran diare pada manusia adalah tangan manusia itu sendiri. Tangan yang kotor berisiko mengandung banyak kuman dan bakteri. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan melakukan beragam aktivitas tampaknya masih tampaknya masih ampuh mencegah kehadiran bakteri dalam usus.

4.    Lalat

Hewan yang satu ini sepertinya memang menjadi ‘teman akrab’ bagi para bakteri. Sebaliknya, ia menjadi musuh bagi para manusia. Lalat memang memiliki kebiasaan yang aneh menurut manusia, ia lebih senang hinggap di tempat-tempat kotor. Kotoran yang menempel pada kakinya, kemudian menempel pada makanan.

Bakteri yang menyebabkan penyakit diare sangat menyukai tempat-tempat yang memang kotor. Mereka akan tumbuh dan berkembang biak di sana. Epidemiologi diare memang tidak seperti penyakit pernafasan yang bisa menular melalui udara. Walaupun kedua penyakit tersebut sama-sama disebabkan oleh kuman dan bakteri.

Di Indonesia diperkirakan 25% dari kematian anak balita disebabkan oleh diare. Kelompok umur yang paling rawan terkena diare adalah 2-3 tahun, walaupun banyak juga ditemukan penderita yang usianya relatif muda yaitu antara 6 bulan–12 bulan.

MEKANISME PENULARAN

  • Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
  • Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut.  Karena virus ini dapat         bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
  • Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
  • Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
  • Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan alat-alat yang dipegang.

ETIOLOGI

Penyebab diare secara umum ditimbulkan oleh:

  • Adanya aktivitas bakteri, virus atau parasit yang menginfeksi usus.
  • Alergi terhadap makanan dan obat-obatan tertentu.
  • Infeksi yang disebabkan virus dan bakteri yang menyertai penyakit lain seperti campak, infeksi telinga, infeksi tenggorokan dan malaria.
  • Pemanis buatan yang banyak terdapat pada jajanan pinggir jalan yang sering dikonsumsi anak-anak.

Anak-anak sering mengalami gangguan pada kesehatan terutama organ pencernaan. Seperti diare yang sering menyerangnya minimal satu kali dalam setahun. Hal ini dikarenakan kurangnya pengawasan terhadap kebersihan makanan dan jenis makanan yang dikonsumsinya. Infeksi akibat rotasi virus terjadi pada proses penyerapan di usus mereka.

Anak-anak kecil sering jajan sembarangan, begitu pula dengan anak balita yang sering diberi makanan padat yang belum saatnya diberi. Akibatnya, usus halus yang belum siap menyerap langsung melimpahkan makanan ke usus besar. Hal ini menyebabkan produksi tinja menjadi berair. Akibat yang sering terjadi pada penderita diare adalah dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar.

Anak-anak juga juga sering menemukan makanan yang tercecer di sekitarnya dan kemudian dimasukkannya ke dalam mulut. Kemudian terjadilah proses rotasi virus dan bakteri dalam organ pencernaan.

Menurut Sumirat, penyakit diare selain disebabkan oleh bermacam- macam faktor juga sangat dipengaruhi oleh kualitas air yang digunakan oleh masyarakat, adapun macam- macam faktor yang mempengaruhi dapat diuraikan sebagai berikut :

  • Air sebagai penyebar mikroba patogen.
  • Air sebagai sarang insekta dan penyebar penyakit.
  • Jumlah air bersih yang tersedia tidak mencukupi, sehingga orang tidak dapat membersihkan dirinya dengan baik.
  • Air sebagai sarang hopses sementara penyakit.

DISTRIBUSI

  • Berdasarkan tempat
  • Distribusi penyakit diare di Indonesia pada tahun 2005 banyak ditemukan di propinsi Nusa Tenggara Timur dengan CFR 1,28 %.
  • Berdasarkan umur
  • Sekitar 80 % kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun, data terakhir menunjukkan bahwa dari sekitar 125 juta anak usia 0-11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4 tahun yang tinggal di negara berkembang total episode diare pad abalita sekitar 1,4 milyar kali per tahun. Dari jumlah tersebut total episode diare pada bayi usia dibawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta kali dan anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali pertahun.
  • Berdasarkan waktu
  • Distribusi penyakit diare di Indonesia sering ditemukan pada musim pancaroba (perubahan iklim dari musim hujan ke kemarau).

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN (CONTROL)

  1. Pada penderita
  2. Contact person
  3. Lingkungan
      1. Minum dan makan secara normal untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.
      2. Untuk bayi dan balita, teruskan minum ASI.
      3. Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk  pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan.
      4. Garam oralit.
    1. Mencuci tangan pakai sabun dengan benar pada lima waktu penting : sebelum dan sesudah makan, setelah buang air besar, sebelum memegang bayi, setelah menceboki anak, sebelum menyiapkan makanan.
    2. Meminum air minum sehat, atau air yang telah diolah, antara lain dengan cara merbus, pemanasan dengan sinar matahari atau proses klorinasi.
    3. Pengelolaan sampah yang baik supaya makanan tidak tercemar serangga (lalat, kecoa, kutu, dll).
    4. Membuang air besar dan air kecil pada tempatnya, sebaiknya menggunakan jamban dengan tangki septik.

Meningkatkan sanitasi lingkungan, melakukan penyuluhan terhadap warga di masyarakat tentang lingkungan bersih, bekerja sama membersihkan saluran air.

http://www.esp.or.id/handwashing/media/diare.pdf

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3391/1/penydalam-srimaryani2.pdf

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/2423967796.pdf

By :

Dhea Khoirunnisa Apriani

E2A009197

Reguler 2 2009

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegoro

daftar nilai & penugasan

10 Jan

Temen-temen untuk mahasiswa yang nilai rerata sementara kurang dari 70, silakan diperbaiki dengan membuat makalah dengan tema injury prevention and control, min 12 hal, referensi min 5 buah dari artikel jurnal, textbook atau web resmi institusi, tidak boleh dari blog pribadi atau sumber lain yang diragukan, dikumpulkan dalam minggun ini. Harap dikerjakan dengan sebaik-baiknya di kumpul paling lambat minggu ini (sabtu, tanggal 15 Januari) ke email bu Yusniar (yusniar@bismillah.com)

NO NIM NAMA BETUL NILAI UAS YHD RERATA
1 E2A009135 DENTY MARTIA (0364) 18 90 75 82.5
2 E2A009136 PRATIWI SORAYA (0364) 14 70 73 71.5
3 E2A009137 UMY ASTARI (0364) 17 85 100 92.5
4 E2A009138 RIZA BERDIAN TAMZA (0364) 14 70 58 64
5 E2A009139 NELDA ROSITA HASIBUAN (0364) 18 90 60 75
6 E2A009140 CHRISTIANA NANIK (0364) 17 85 75 80
7 e2a009141 FATHIMAH (0364) 17 85 72 78.5
8 E2A009142 SELVI ZURYANI (0364) 15 75 85 80
9 E2A009143 INDAH MUSPITA PRATIWI (0364) 14 70 78 74
10 E2A009144 NURUL HIDAYAH (0364) 17 85 92 88.5
11 E2A009145 DICKY DIAN SAPUTRO (0364) 11 55 72 63.5
12 E2A009146 PURUHITO HESTU ATMOJO (0364) 11 55 60 57.5
13 E2A009147 CATHERINA SEKAR R (0364) 17 85 95 90
14 E2A009148 RISA ERMAWATI (0364) 16 80 78 79
15 E2A009149 AVRIANA MUKTI SEPTIVULANI (0364) 15 75 48 61.5
16 E2A009150 MEIGA FATIMAH (0364) 17 85 75 80
17 E2A009151 ULIN NUHA SHOVY (0364) 19 95 65 80
18 E2A009152 DYAHNING RIRIS ARISMIA (0364) 19 95 75 85
19 E2A009153 ANDRIYANI PUSPITASARI (0364) 19 95 85 90
20 E2A009154 IRA TITAH SRI RAHAYU (0364) 12 60 65 62.5
21 E2A009155 JAZILAH DINA UTAMI (0364) 17 85 55 70
22 E2A009156 TRIANA PRIMADEWI (0364) 0 0 62 31
23 E2A009157 SISKA KURNIA PUTRI (0364) 18 90 100 95
24 E2A009158 AYU THIFA KHOIRUZ Z. (0364) 5 25 42 33.5
25 E2A009159 EKA LUVITA SARI (0364) 18 90 84 87
26 E2A009160 NILA NAFISATUL IZZAH (0365) 14 70 83 76.5
27 E2A009161 KARTIKA NURAINI (0365) 15 75 98 86.5
28 E2A009162 WAHYU MARIYANTO (0365) 10 50 12 31
29 E2A009163 HARYUDI OKTA SOFIYANTO (0365) 10 50 40 45
30 E2A009164 DARA AYU DWI PUSPITASARI (0365) 18 90 85 87.5
31 E2A009165 MUKHOLIDAH (0365) 13 65 65 65
32 E2A009166 LUTHFI AFIFI (0365) 12 60 40 50
33 E2A009167 NEVI RETNO HARJANTI (0365) 15 75 85 80
34 E2A009168 LAELY MUSTIKA DEWI (0365) 11 55 60 57.5
35 e2a009170 SARI EKA WAHYUNI (0365) 13 65 62 63.5
36 E2A009171 RUTH KARTIKANINGTYAS (0365) 19 95 98 96.5
37 E2A009172 NOVITARATRI (0365) 13 65 78 71.5
38 E2A009173 SEKAR AYU ARUMIASIH (0365) 9 45 68 56.5
39 E2A009174 HARNING NADIA W. (0365) 17 85 52 68.5
40 E2A009175 SIRABEKKA HUTABARAT (0365) 17 85 75 80
41 E2A009176 RIZQI AMANULLAH (0365) 15 75 55 65
42 E2A009177 DARA BETTA LARASATI (0365) 17 85 90 87.5
43 E2A009178 WITA MAHARANI (0365) 17 85 78 81.5
44 E2A009179 SHOLIKHUL HADI (0365) 13 65 60 62.5
45 E2A009180 LUTHFAN FIRDANI (0365) 9 45 20 32.5
46 E2A009181 JEFRI O. TIMOTEUS (0365) 14 70 68 69
47 E2A009182 ROSALINDA TRAJUNINGTYAS (0365) 17 85 72 78.5
48 E2A009183 DEWI MASITHOH (0365) 19 95 88 91.5
49 E2A009184 RIFKI YOGA P. (0365) 6 30 20 25
50 E2A009185 FARID MASUM F. (0376) 14 70 72 71
51 E2A009186 NILAMSARI GOBANO P. (0376) 18 90 77 83.5
52 E2A009187 ELYZA NOVIANA (0376) 15 75 85 80
53 E2A009188 RIA MELIZA (0376) 19 95 85 90
54 E2A009189 OGAR DIMAS KRITFANDA (0376) 18 90 45 67.5
55 E2A009190 MUHAMMAD HIDAYATULLAH (0376) 18 90 65 77.5
56 E2A009191 RINI PUSPITASARI (0376) 16 80 72 76
57 E2A009192 AHMAD KHARIS (0376) 12 60 65 62.5
58 E2A009193 ELZHA AF’IDATUL H (0376) 17 85 70 77.5
59 E2A009194 SYILFA NURHAENI F. (0376) 16 80 78 79
60 E2A009195 FARIDA EKO S. (0376) 15 75 74 74.5
61 E2A009197 DEA K. APRIANI (0376) 12 60 88 74
62 E2A009198 FEBBY HAPSARI P. (0376) 17 85 75 80
63 E2A009199 KARINA FITRIANI (0376) 20 100 82 91
64 E2A009200 ULFATUSYIFAH K.K. (0376) 19 95 78 86.5
65 E2A009201 SRI MURNI (0376) 14 70 82 76
66 E2A009202 KUKUH ARDIAN (0376) 17 85 65 75
67 E2A009203 INDRA TRI ANDOKO (0376) 5 25 42 33.5
68 E2A009204 AYU DIANA FUANASARI (0376) 13 65 35 50
69 E2A009205 RAHAYU (0376) 4 20 20 20
70 E2A009206 INDRI SETYANINGRUM (0376) 15 75 62 68.5
71 E2A009208 ANISTA MAYANGWATI (0376) 16 80 62 71
72 E2A009209 FERRI KRISTIYANTO (0376) 11 55 20 37.5
73 E2A009210 IDA PURWANTI (0376) 14 70 85 77.5

Kejadian Luar Biasa (KLB) / Wabah

1 Dec

1.Apa saja kriteria suatu kejadian penyakit dikatakan wabah/KLB?

  • Timbulnya penyakit menular yang sebelmunya tidak pernah ada
  • Pertambahan kejadian penyakit terus menerus dalam 3 kurun waktu
  • Pertambahan penyakit  2x lipat atau menjadi lebih banyak
  • Jumlah penderita dalam satu bulan menjadi 2x lipat atau lebih,bila dibandingkan dengan periode sebelumnya

2.Apa yang dimaksud dengan “Herd immunity”.?

Merupakan sesuatu yang mempengaruhi tinggi rendahnya kekebalan tubuh atau imunitas didalam suatu masyarakat/kelompok.Adanya target(tidak selalu harus 100%)karena berbeda-beda dan dirasa sudah cukup untuk melindungi kelompok agar penyakit tidak masuk dalam suatu kelompok tersebut.

3.Apa yang seharusnya kita lakukan agar fenomena wabah?KLB dapat dicegah?

  • Penanggulangan sumber pathogen
    • Singkirkan sumber kontaminaasi
    • Hindarkan orang dari paparan
    • Inaktifasi atau neutralisasi pathogen
    • Isolasi dan / atau obati orang yang terinfeksi
  • Memutus rantai penularan
    • Memutus sumber lingkungan
    • Penanggulangan transmisi vektor
    • Tingkatan sanitasi perorangan

KELOMPOK 11

RISA ERMAWATI                            :E2A009148

LAELY MUSTIKA DEWI                 :E2A009168

MUH. HIDAYATULLAH                  :E2A009190

DHEA KHOIRUNNISA A.                :E2A009197

SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE

26 Nov

SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE

Tujuan : Melakukan evaluasi sistem surveilans sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Metode : Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan rancangan studi kasus, yaitu bertujuan untuk memahami lebih mendalam terhadap suatu kasus spesifik di mana peneliti ingin mengetahui bagaimana sistem surveilans digunakan sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan demam berdarah dengue.

1.      SURVEILANS PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)  adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tifus.

Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD disebabkan  adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.

2.      FAKTOR DAN UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD, yaitu urbanisasi yang cepat, perkembangan pembangunan di daerah pedesaan, kurangnya persediaan air bersih, mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah, adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal, yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor, (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini, (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD, mengembangkan teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan, memberikan pelatihan dan bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan meliputi abatisasi, fogging focus dan penyuluhan/promosi kesehatan disamping pengobatan penderita. Agar kegiatan tersebut dapat berlangsung efektif, efisien dan tepat sasaran maka diperlukan suatu kegiatan surveilans epidemiologi dimana hasil kegiatan surveilans sangat menentukan tindakan pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi kegiatan.

Surveilans epidemiologi merupakan pengamatan penyakit pada populasi yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, untuk menjelaskan pola penyakit, mempelajari riwayat penyakit dan memberikan data dasar untuk pengendalian dan penanggulangan penyakit tersebut. Surveilans epidemiologi tidak terbatas pada pengumpulan data, tetapi juga tabulasi, analisis dan interpretasi data serta publikasi dan distribusi informasi. Jenis data yang dikumpulkan juga menyangkut subyek yang sangat luas, tidak hanya data kesakitan, kematian, wabah, data rumah sakit tetapi lebih luas termasuk data tentang faktor risiko individu, demografis maupun lingkungan.

CONTOH KASUS

Sepanjang Januari hingga 6 Februari 2010, angka penderita demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 914 kasus. Namun jumlah tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1.202 kasus dan satu pasien di antaranya meninggal dunia.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyebutkan, penderita DBD tersebut tersebar di lima wilayah kota administrasi. Rinciannya, Jakarta Pusat sebanyak 84 kasus, Jakarta Barat sebanyak 123 kasus, Jakarta Utara 131 kasus, Jakarta Selatan 267 kasus, dan Jakarta Timur sebanyak 309 kasus.

Bahkan angka penderita DBD pada tahun 2009 sebesar 18.325 kasus, masih lebih rendah dibanding tahun 2008 yang mencapai 28 ribuan kasus. Penderita DBD tahun 2009 rinciannya, Jakarta Pusat sebanyak 1.863 kasus, Jakarta Utara 3.766 kasus, Jakarta Barat 2.583 kasus, Jakarta Selatan 4.976 kasus, dan Jakarta Timur 5.178 kasus.

Dari sepanjang tahun 2009 kasus DBD tertinggi DKI Jakarta adalah di bulan April yaitu, sebanyak 4261 penderita, dengan tiga orang meninggal. Sedangkan kasus kematian tertinggi akibat DBD di sepanjang tahun ini adalah pada bulan Januari dengan delapan kasus kematian dari 3130 penderita.

Hingga Juli ini berdasarkan data Dinkes DKI Jakarta total penderita DBD di keseluruhan wilayah DKI Jakarta adalah 22609 orang, dengan 31 kasus kematian. “Dinkes DKI Jakarta terus mengusahakan agar tingkat kematian akibat penyakit musiman ini dapat berkurang setiap tahun,” kata Tini.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Purbo Antasih, mengatakan, Dinkes telah mengambil tindakan untuk menanggulangi penyakit pandemik ini dengan mengadakan kampanye di pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat, dan pemberlakuan program Pemberantasan Sarang Nyamuk setiap Jumat. “Upaya ini terbukti cukup efektif untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, sehingga DBD menjadi penyakit yang tidak terlalu meresahkan lagi,” Jelas Purbo.

Mengacu data Surveilans Aktif Dinkes, saat ini masih 38 kelurahan di DKI Jakarta yang berstatus merah atau rawan DBD, tetapi jumlah penderita sudah berkurang cukup drastis dari bulan sebelumnnya. 38 kelurahan berstatus merah tersebut terdiri dari tiga kelurahan di Jakarta Pusat, sembilan kelurahan di Jakarta Utara, sembilan kelurahan di Jakarta Selatan, dan 17 kelurahan di Jakarta Timur.

Surveilans yang benar adalah dengan cara pengumpulan,pencatatan,pengolahan dan penyajian data secara terus menerus untuk mengetahui perkembangan penyakit dbd.

Surveilans yang baik dapat dilakukan dengan cara :

1)      Surveilans Aktif Rumah Sakit, merupakan kewajiban rumah sakit melaporkan setiap kasus baru DBD yang dirawat ke dinas kesehatan dalam waktu 1 x 24 jam

2)      Surveilans Berbasis Masyarakat, merupakan kewajiban masyarakat melaporkan setiap penderita DBD ke puskesmas

3)      Surveilans berbasis Petugas Kesehatan dengan cara mendata suatu penyakit di setiap RT/RW

Tentu saja dalam melakukan surveilans peran masyarakat sangat dibutuhkan. Karena Tidak hanya petugas kesehatan saja yang berperan aktif. Petugas kesehatan dalam hal ini dapat melakukan kerja sama dengan kelurahan/kecamatan setempat untuk mendapatkan data serta mengantisipasi warga akan bahaya wabah DBD.

Meski terjadi penurunan, antisipasi pencegahan dan penanganan kasus DBD di Jakarta tetap ditingkatkan. Penyelidikan Epidemiologi DBD merupakan kegiatan pencarian penderita atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik ditempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya, termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter  kemudian Pengawasannya dimulai dengan suplai data kasus DBD dari seluruh rumah sakit di Jakarta. Berdasarkan data itu, dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh petugas medis puskesmas ke wilayah yang terdapat kasus DBD untuk investigasi.

Jika terbukti positif DBD, maka akan dilakukan epidemiologi dan lingkungan yang rawan DBD akan di-fogging untuk menghindari penyebaran jentik nyamuk. “Fogging merupakan sarana pemutus penularan DBD di wilayah yang ada penderita DBD. Itu merupakan langkah efektif hingga sekarang ini,” ungkapnya.

Mengingat vaksin dan obat untuk menyembuhkan DBD belum tersedia, maka cara yang dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangannya adalah dengan pengendalian vektor (nyamuk penular). Di Indonesia telah diketahui terdapat dua spesies nyamuk Aedes yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus, spesies pertama sebagai vektor utama dan yang kedua sebagai vektor sekunder. Pengendalian vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa dan jentiknya. Pada tahun 1969-1980 pengendalian vektor DBD terutama menggunakan insektisida dengan penyemprotan seperti fogging dan Ultra Low Volume (ULV) bila terjadi wabah atau KLB. Sejak tahun 1988 selain dengan penyemprotan, juga dilaksanakan larvasidasi massal untuk membunuh jentik dan dilakukan Sebelum Musim Penularan (SMP). Mulai tahun 1989 telah dilaksanakan pengendalian DBD secara terpadu yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan kegiatan 3M (menguras, menutup, mengubur), larvasidasi dan penyemprotan. Penyemprotan massal Sebelum Masa Penularan dihentikan pada tahun 1998 karena dinilai tidak efektif, sehingga cakupan penyemprotan hanya berdasarkan fokus kasus.

Untuk meningkatkan efektifitas program pengendalian secara terpadu, dipandang perlu melakukan program pengendalian nyamuk dan jentik nyamuk DBD melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Gerakan 3M dan/ atau Gerakan 3M Plus oleh semua Tatanan Masyarakat.

Upaya pengendalian DBD di masyarakat difokuskan pada pencegahan penularan kasus DBD diantaranya melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Pengendalian Vektor Penular melalui pemasangan Lavitrap dan Penyelidikan Epidemologi (PE). Kemudian, mengenai upaya pengendalian DBD pada tingkat klinis dilaksanakan pada tingkat Puskesmas dan rumah sakit yang difokuskan pada deteksi dini dan pencegahan kematian akibat demam berdarah dengan diagnosa demam dengue.

Untuk terwujudnya keterpaduan penanganan pemberantasan nyamuk dan jentik nyamuk DBD dimaksud, perlu adanya dukungan pembiayaaan yang berkesinambungan dari Pemerintah Daerah. Selain dari pada itu perlu adanya suatu peraturan yang harus dipatuhi bersama oleh semua Tatanan Masyarakat, sehingga dalam pelaksanaannnya nanti dapat berjalan secara terkoordinasi, selaras dan saling mendukung, untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

NAMA                  : Dhea Khoirunnisa Apriani

NIM                       : E2A009197

KELAS                    : Reguler 2 2009

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegroro

EPIDEMIOLOGI DAN PERANANNYA TERHADAP KESEHATAN

15 Oct

EPIDEMIOLOGI DAN PERANANNYA TERHADAP KESEHATAN

Epidemiologi sudah berkembang pesat sejak zaman Yunani kuno. Ilmu ini sangat berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat guna mencapai tujuan sosial-humanisme. Etape-etape epidemiologi adalah sebagai berikut:

  1. Hippocrates, (circa 400 BCE): On Airs, Waters, and Places.
  2. John Graunt (1620-1674): Natural and Political Observations on the Bills of Mortality
  3. James Lind (1716-1794):  A Treatise of the Scurvy in Three Parts
  4. William Farr: Campaigning statistician
  5. John Snow: On the Mode and Communication of Cholera
  6. Joseph Golderberger (1874-1929)

Dari keseluruhan para ahli epidemiologi, John Snow lah yang dianggap sebagai Bapak Epidemiologi Modern. Epidemiologi pada mulanya diartikan sebagai studi tentang epidemi. Hal ini berarti bahwa epidemiologi hanya mempelajari penyakit-penyakit menular saja tetapi dalam perkembangan selanjutnya epidemiologi juga mempelajari penyakit-penyakit non infeksi, sehingga dewasa ini epidemiologi dapat diartikan sebagai studi tentang penyebaran penyakit pada manusia di dalam konteks lingkungannya. Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunai yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti PADA atau TENTANG, DEMOS yang berati PENDUDUK dan kata terakhir adalalah LOGOS yang berarti ILMU PENGETAHUAN. Jadi EPIDEMILOGI adalah ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG PENDUDUK. Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah : “Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Suatu ilmu yang awalnya mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan pada penyakit infeksi menular. Tapi dalam perkembangannya hingga saat ini masalah yang dihadapi penduduk tidak hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Oleh karena itu, epidemiologi telah menjangkau hal tersebut. Pengertian epidemiolagi menurut badan kesehatan lain seperti WHO dan OMRAN yaitu study mengenai distribusi dan determinan dari kesehatan pada status dan kejadian pada populasi dan aplikasi pembelajaran dari pemecahan masalah kesehatan , menurut WHO (1988) . Studi mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan penduduk, begitu juga determinannya dan akibatnya yang terjadi pada kelompok penduduk , menurut OMRAN (1974) . PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI MENURUT CENTER OF DISEASE CONTROL (CDC) 2002 Adapun definisi Epidemiologi menurut CDC 2002, Last 2001, Gordis 2000 menyatakan bahwa EPIDEMIOLOGI adalah : “ Studi yang mempelajari Distribusi dan Determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi serta penerapannya untuk pengendalian masalah – masalah kesehatan “. Dari pengertian ini, jelas bahwa Epidemiologi adalah suatu Studi ; dan Studi itu adalah Riset. Kemudian apakah Riset itu…..?? Menurut Leedy (1974), Riset adalah “ a systematic quest for undiscovered truth”. ( Artinya : Pencarian sistematis terhadap kebenaran yang belum terungkap ). Di dalam batasan epidemiologi ini sekurang-kurangnya mencakup 3 elemen, yakni : a. Mencakup semua penyakit Epidemiologi mempelajari semua penyakit, baik penyakit infeksi maupun penyakit non infeksi, seperti kanker, penyakit kekurangan gizi (malnutrisi), kecelakaan lalu lintas maupun kecelakaan kerja, sakit jiwa dan sebagainya. Bahkan di negara-negara maju, epidemiologi ini mencakup juga kegiatan pelayanan kesehatan. b. Populasi Apabila kedokteran klinik berorientasi pada gambaran-gambaran dari penyakit-penyakit individu maka epidemiologi ini memusatkan perhatiannya pada distribusi penyakit pada populasi (masyarakat) atau kelompok. c. Pendekatan ekologi Frekuensi dan distribusi penyakit dikaji dari latar belakang pada keseluruhan lingkungan manusia baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Hal inilah yang dimaksud pendekatan ekologis. Terjadinya penyakit pada seseorang dikaji dari manusia dan total lingkungannya. Peranan epidemiologi, khususnya dalam konteks program Kesehatan dan Keluarga Berencana adalah sebagai tool (alat) dan sebagai metode atau pendekatan. Epidemiologi sebagai alat diartikan bahwa dalam melihat suatu masalah KB-Kes selalu mempertanyakan siapa yang terkena masalah, di mana dan bagaimana penyebaran masalah, serta kapan penyebaran masalah tersebut terjadi. Demikian pula pendekatan pemecahan masalah tersebut selalu dikaitkan dengan masalah, di mana atau dalam lingkungan bagaimana penyebaran masalah serta bilaman masalah tersebut terjadi. Kegunaan lain dari epidemiologi khususnya dalam program kesehatan adalah ukuran-ukuran epidemiologi seperti prevalensi, point of prevalence dan sebagainya dapat digunakan dalam perhitungan-perhitungan : prevalensi, kasus baru, case fatality rate dan sebagainya. Mula-mula epidemiologi hanya mempelajari penyakit yang dapat menimbulkan wabah melalui temuan-temuan tentang jenis penyakit wabah, cara penularan dan penyebab serta bagaimana penanggulangan penaykait wabah tersebut. Kemudia tahap berikutnya berkembang lagi menyangkut penyakit yang infeksi non-wabah. Berlanjut lagi dengan mempelajari penyakit non infeksi seperti jantung, karsinoma, hipertensi, dll. Perkemnbang selanjutnya mulai meluas ke hal-hal yang bukan penyakit seperti fertilitas, menopouse, kecelakkaan, kenakalan remaja, penyalahgunaan obat-obat terlarang, merokok, hingga masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat. Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan. Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya. Epidemiologi juga memiliki manfaat penting dalam menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat yaitu memberikan gambaran (deskripsi) tentang penyebaran (distribusi), besar dan luasnya masalah kesehatan dan lainnya ,menjelaskan interaksi faktor-faktor agent, host and environment ,menguraikan kelompok Penduduk yang dalam risiko dan risiko tinggi terhadap kelompok Penduduk yang tidak mempunyai Risiko ,mengevaluasi efektivitas dan efisiensi serta keberhasilan kegiatan , membantu pekerjaan administratif kesehatan yaitu planning (perencanaan) ,monitoring (pengamatan) ,evaluation ,menerangkan keadaan masalah kesehatan yaitu epidemik merupakan suatu keadaan dimana masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang di temukan pada suatu daerah tertentu pada waktu singkat dalam frekuensi yang meningkat, pandemik merupakan suatu keadaan dimana masalah kesehatan (umumnya penyakit) frekuensinya dalam waktu singkat memperlihatkan peningkatan yang amat tinggi serta penyebaranannya mencakup suatu wilayah yang amat luas, endemik merupakan suatu keadaan dimana masalah kesehatan (umumnya penyakit) frukuensinya pada wilayah tertentu menetap dalam waktu yang lama ,sporadik merupakan suatu keadaan dimana masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ada pada wilayah tertentu frekuensi berubah menurut perubahan waktu .

KELOMPOK 11

DHEA KHOIRUNNISA APRIANI E2A009197

RISA ERMAWATI E2A009148

LAELY MUSTIKA DEWI E2A009168

MUHAMMAD HIDAYATULLAH             E2A009190

Nama saya DHEA K.A.

NIM E2A009197

Reguler 2 2009

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegoro