SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE

26 Nov

SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE

Tujuan : Melakukan evaluasi sistem surveilans sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD).

Metode : Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan rancangan studi kasus, yaitu bertujuan untuk memahami lebih mendalam terhadap suatu kasus spesifik di mana peneliti ingin mengetahui bagaimana sistem surveilans digunakan sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan demam berdarah dengue.

1.      SURVEILANS PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)  adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana menyebabkan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada sistem pembekuan darah, sehingga mengakibatkan perdarahan-perdarahan.

Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara, India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut. Dokter dan tenaga kesehatan lainnya seperti Bidan dan Pak Mantri seringkali salah dalam penegakkan diagnosa, karena kecenderungan gejala awal yang menyerupai penyakit lain seperti Flu dan Tifus.

Di Indonesia Penyakit DBD pertama kali ditemukan pada tahun 1968 di Surabaya dan sekarang menyebar keseluruh propinsi di Indonesia. Timbulnya penyakit DBD disebabkan  adanya korelasi antara strain dan genetik, tetapi akhir-akhir ini agen penyebab DBD disetiap daerah berbeda. Hal ini kemungkinan adanya faktor geografik, selain faktor genetik dari hospesnya. Selain itu berdasarkan macam manifestasi klinik yang timbul dan tatalaksana DBD secara konvensional sudah berubah.

2.      FAKTOR DAN UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyebaran dan penularan penyakit DBD, yaitu urbanisasi yang cepat, perkembangan pembangunan di daerah pedesaan, kurangnya persediaan air bersih, mudahnya transportasi yang menyebabkan mudahnya lalu lintas manusia antardaerah, adanya pemanasan global yang dapat mempengaruhi bionomik vektor Aedes aegypti. Upaya pemberantasan demam berdarah terdiri dari 3 hal, yaitu: (1) Peningkatan kegiatan surveilans penyakit dan surveilans vektor, (2) Diagnosis dini dan pengobatan dini, (3) Peningkatan upaya pemberantasan vektor penular penyakit DBD. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan masyarakat termasuk sektor swasta. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD, mengembangkan teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan, memberikan pelatihan dan bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.

Kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan meliputi abatisasi, fogging focus dan penyuluhan/promosi kesehatan disamping pengobatan penderita. Agar kegiatan tersebut dapat berlangsung efektif, efisien dan tepat sasaran maka diperlukan suatu kegiatan surveilans epidemiologi dimana hasil kegiatan surveilans sangat menentukan tindakan pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi kegiatan.

Surveilans epidemiologi merupakan pengamatan penyakit pada populasi yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan, untuk menjelaskan pola penyakit, mempelajari riwayat penyakit dan memberikan data dasar untuk pengendalian dan penanggulangan penyakit tersebut. Surveilans epidemiologi tidak terbatas pada pengumpulan data, tetapi juga tabulasi, analisis dan interpretasi data serta publikasi dan distribusi informasi. Jenis data yang dikumpulkan juga menyangkut subyek yang sangat luas, tidak hanya data kesakitan, kematian, wabah, data rumah sakit tetapi lebih luas termasuk data tentang faktor risiko individu, demografis maupun lingkungan.

CONTOH KASUS

Sepanjang Januari hingga 6 Februari 2010, angka penderita demam berdarah dengue (DBD) di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 914 kasus. Namun jumlah tersebut lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1.202 kasus dan satu pasien di antaranya meninggal dunia.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menyebutkan, penderita DBD tersebut tersebar di lima wilayah kota administrasi. Rinciannya, Jakarta Pusat sebanyak 84 kasus, Jakarta Barat sebanyak 123 kasus, Jakarta Utara 131 kasus, Jakarta Selatan 267 kasus, dan Jakarta Timur sebanyak 309 kasus.

Bahkan angka penderita DBD pada tahun 2009 sebesar 18.325 kasus, masih lebih rendah dibanding tahun 2008 yang mencapai 28 ribuan kasus. Penderita DBD tahun 2009 rinciannya, Jakarta Pusat sebanyak 1.863 kasus, Jakarta Utara 3.766 kasus, Jakarta Barat 2.583 kasus, Jakarta Selatan 4.976 kasus, dan Jakarta Timur 5.178 kasus.

Dari sepanjang tahun 2009 kasus DBD tertinggi DKI Jakarta adalah di bulan April yaitu, sebanyak 4261 penderita, dengan tiga orang meninggal. Sedangkan kasus kematian tertinggi akibat DBD di sepanjang tahun ini adalah pada bulan Januari dengan delapan kasus kematian dari 3130 penderita.

Hingga Juli ini berdasarkan data Dinkes DKI Jakarta total penderita DBD di keseluruhan wilayah DKI Jakarta adalah 22609 orang, dengan 31 kasus kematian. “Dinkes DKI Jakarta terus mengusahakan agar tingkat kematian akibat penyakit musiman ini dapat berkurang setiap tahun,” kata Tini.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinkes Provinsi DKI Jakarta, Purbo Antasih, mengatakan, Dinkes telah mengambil tindakan untuk menanggulangi penyakit pandemik ini dengan mengadakan kampanye di pusat-pusat pelayanan kesehatan masyarakat, dan pemberlakuan program Pemberantasan Sarang Nyamuk setiap Jumat. “Upaya ini terbukti cukup efektif untuk membangkitkan kesadaran masyarakat, sehingga DBD menjadi penyakit yang tidak terlalu meresahkan lagi,” Jelas Purbo.

Mengacu data Surveilans Aktif Dinkes, saat ini masih 38 kelurahan di DKI Jakarta yang berstatus merah atau rawan DBD, tetapi jumlah penderita sudah berkurang cukup drastis dari bulan sebelumnnya. 38 kelurahan berstatus merah tersebut terdiri dari tiga kelurahan di Jakarta Pusat, sembilan kelurahan di Jakarta Utara, sembilan kelurahan di Jakarta Selatan, dan 17 kelurahan di Jakarta Timur.

Surveilans yang benar adalah dengan cara pengumpulan,pencatatan,pengolahan dan penyajian data secara terus menerus untuk mengetahui perkembangan penyakit dbd.

Surveilans yang baik dapat dilakukan dengan cara :

1)      Surveilans Aktif Rumah Sakit, merupakan kewajiban rumah sakit melaporkan setiap kasus baru DBD yang dirawat ke dinas kesehatan dalam waktu 1 x 24 jam

2)      Surveilans Berbasis Masyarakat, merupakan kewajiban masyarakat melaporkan setiap penderita DBD ke puskesmas

3)      Surveilans berbasis Petugas Kesehatan dengan cara mendata suatu penyakit di setiap RT/RW

Tentu saja dalam melakukan surveilans peran masyarakat sangat dibutuhkan. Karena Tidak hanya petugas kesehatan saja yang berperan aktif. Petugas kesehatan dalam hal ini dapat melakukan kerja sama dengan kelurahan/kecamatan setempat untuk mendapatkan data serta mengantisipasi warga akan bahaya wabah DBD.

Meski terjadi penurunan, antisipasi pencegahan dan penanganan kasus DBD di Jakarta tetap ditingkatkan. Penyelidikan Epidemiologi DBD merupakan kegiatan pencarian penderita atau tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan jentik ditempat tinggal penderita dan rumah/bangunan sekitarnya, termasuk tempat-tempat umum dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter  kemudian Pengawasannya dimulai dengan suplai data kasus DBD dari seluruh rumah sakit di Jakarta. Berdasarkan data itu, dilakukan pemeriksaan lanjutan oleh petugas medis puskesmas ke wilayah yang terdapat kasus DBD untuk investigasi.

Jika terbukti positif DBD, maka akan dilakukan epidemiologi dan lingkungan yang rawan DBD akan di-fogging untuk menghindari penyebaran jentik nyamuk. “Fogging merupakan sarana pemutus penularan DBD di wilayah yang ada penderita DBD. Itu merupakan langkah efektif hingga sekarang ini,” ungkapnya.

Mengingat vaksin dan obat untuk menyembuhkan DBD belum tersedia, maka cara yang dilakukan untuk pencegahan dan penanggulangannya adalah dengan pengendalian vektor (nyamuk penular). Di Indonesia telah diketahui terdapat dua spesies nyamuk Aedes yaitu Aedes aegypti dan Aedes albopictus, spesies pertama sebagai vektor utama dan yang kedua sebagai vektor sekunder. Pengendalian vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa dan jentiknya. Pada tahun 1969-1980 pengendalian vektor DBD terutama menggunakan insektisida dengan penyemprotan seperti fogging dan Ultra Low Volume (ULV) bila terjadi wabah atau KLB. Sejak tahun 1988 selain dengan penyemprotan, juga dilaksanakan larvasidasi massal untuk membunuh jentik dan dilakukan Sebelum Musim Penularan (SMP). Mulai tahun 1989 telah dilaksanakan pengendalian DBD secara terpadu yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan kegiatan 3M (menguras, menutup, mengubur), larvasidasi dan penyemprotan. Penyemprotan massal Sebelum Masa Penularan dihentikan pada tahun 1998 karena dinilai tidak efektif, sehingga cakupan penyemprotan hanya berdasarkan fokus kasus.

Untuk meningkatkan efektifitas program pengendalian secara terpadu, dipandang perlu melakukan program pengendalian nyamuk dan jentik nyamuk DBD melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Gerakan 3M dan/ atau Gerakan 3M Plus oleh semua Tatanan Masyarakat.

Upaya pengendalian DBD di masyarakat difokuskan pada pencegahan penularan kasus DBD diantaranya melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Pengendalian Vektor Penular melalui pemasangan Lavitrap dan Penyelidikan Epidemologi (PE). Kemudian, mengenai upaya pengendalian DBD pada tingkat klinis dilaksanakan pada tingkat Puskesmas dan rumah sakit yang difokuskan pada deteksi dini dan pencegahan kematian akibat demam berdarah dengan diagnosa demam dengue.

Untuk terwujudnya keterpaduan penanganan pemberantasan nyamuk dan jentik nyamuk DBD dimaksud, perlu adanya dukungan pembiayaaan yang berkesinambungan dari Pemerintah Daerah. Selain dari pada itu perlu adanya suatu peraturan yang harus dipatuhi bersama oleh semua Tatanan Masyarakat, sehingga dalam pelaksanaannnya nanti dapat berjalan secara terkoordinasi, selaras dan saling mendukung, untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

NAMA                  : Dhea Khoirunnisa Apriani

NIM                       : E2A009197

KELAS                    : Reguler 2 2009

Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Diponegroro

About these ads

One Response to “SURVEILANS DEMAM BERDARAH DENGUE”

  1. azone December 19, 2010 at 2:58 am #

    Terima kasih untuk infonya, sangat membantu. Sekalian buat nambah referansi, saran klo bisa cantumkan juga Daftar pustakanya biar lebih valid dan ilmiah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: